To Become Experts of Islamic Economic

Dialog Kepesantrenan: "Arah Pesantren dalam Masa Pandemi"

    
    Bertepatan dengan hari santri pada tanggal 22 Oktober 2020, Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Ar-Raudhatul Hasanah, mengadakan dialog kepesantrenan dengan tema "Arah Pesantren dalam Masa Pandemi". Dialog ini mengundang pembicara dari tiga unsur yaitu STIT, Pesantren dan Guru. Dari STIT diwakili oleh KH. DR. Rasyidin Bina yang membahas tentang "Ketahanan Pesantren Sebagai Lembaga Pendidikan Islam", dari pesantren diwakili oleh Direktur Pesantren Ust. KH. Solihin Adin, MM yang membahas tentang "Kebijakan Pesantren di Masa Pandemi" dan terakhir dari kalangan guru diwakili oleh Ust. Kamaludin Hot Pasi, Lc yang membahas tentang "Perubahan Pesantren Dalam Sejarah dan Pemikiran".

Santri Kuat, Indonesia Sehat
    Slogan di atas adalah slogan yang digunakan pada hari santri kali ini. Tentunya ini sesuai dengan kondisi dunia internasional yang sedang menghadapi pandemi Covid-19. Istilah santri sangat erat kaitannya dengan siswa yang belajar di lembaga pendidikan yang disebut dengan pesantren. Pada masa pandemi ini, hanya pesantren yang diizinkan untuk mengikuti program KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) tatap muka. Bukan tidak mengindahkan apa yang dianjurkan oleh pemerintah, tapi sedikit kemungkinan pesantren bisa melakukan kegiatan KBM dengan proses daring. Alasan yang pertama adalah murid-murid yang belajar di pesantren bukan berasal dari satu kota tertentu saja, ada yang berasal dari luar daerah bahkan pelosok daerah yang susah untuk mengakses internet. Kedua, pelajaran yang diajarkan di pesantren bukan pelajaran umum saja, atau dengan kata lain pelajaran yang disampaikan dengan bahasa Indonesia atau Inggris, tapi juga ada pelajaran bahasa Arab, seperti membaca kitab, mahfuzot, tafsir, nahwu dan lainnya yang tidak bisa dihandle oleh orang tua, seperti pelajaran daring yang dilakukan oleh sekolah non-pesantren. 

    Maka dari itu, pesantren tidak bisa melakukan KBM melalui daring. Untuk itu, maka pesantren memperbaiki sistem dalam pelaksanaan sehari-hari. Ust. KH. Solihin Adin, MM menyatakan bahwa pesantren merubah setiap sudut fasilitasnya dengan protokol kesehatan, seperti dibangunnya tempat cuci tangan dan penyediaan sabun di tempat-tempat strategis khususnya di depan asrama. Kebijakan yang lain adalah diwajibkannya penggunaan masker, guru yang tinggal di luar asrama harus cuci tangan sebelum masuk di depan gerbang, sementara ini orang tua hanya boleh menitipkan barang saja di pos satpam dengan kata lain tidak dibukanya jam berkunjung selama pandemi dan berbagai kebijakan lain yang disesuaikan dengan keadaan pandemi. Maka, yang diharapkan adalah kerjasama yang baik seluruh pihak, orang tua, guru-guru, santri, karyawan atau siapapun yang bersinggungan dengan pesantren. Kepada seluruhnya terkhusus orang tua untuk bisa mendo'akan guru-guru dan anaknya agar dapat beraktivitas dengan baik dan pastinya sehat. Kita sudah berusaha dan yang terakhir adalah berdo'a kepada Allah swt semoga kita semua dilindungiNya.

    Pada kesempatan dialog saat itu juga dikatakan bahwa dalam sejarahnya santri juga memiliki andil dalam kemerdekaan Indonesia. Dan saat ini santri melalui pesantren juga berkontribusi dalam mencerdaskan anak bangsa melalui kurikulum yang dimilikinya. Melalui pemaparan ust. Kamal, pesantren terus bermetamorfosa dari tradisional, semi modern hingga modern. Sehingga, saat ini pesantren menjadi salah satu lembaga pendidikan yang bisa diandalkan. Pastinya dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai keIslaman yang menjadi asas pendirian pesantren.

    KH. DR. Rasyidin Bina berujar, bahwa setiap elemen dari huruf yang membentuk kata santri, masing-masing memiliki makna yaitu; S untuk Survive Anywhere, A untuk Agent of Change, N untuk Nasionalisme, T untuk Time Update, R untuk Religius Rasional, dan I untuk Intelektual Influence. Dari setiap pemaknaan tersebut penulis menyimpulkan bahwa pesantren sedang dan akan terus mempersiapkan dirinya sebagai lembaga dan santrinya sebagai seorang muslim yang kokoh, intelektual, pastinya juga taat. Bahwa pesantren dengan sistem yang dimilikinya merupakan benteng pertahanan yang kuat untuk juga andil dalam perkembangan peradaban, khususnya peradaban Islam.

    Dan terakhir saya memohon doa kepada seluruh pembaca, untuk membacakan doa kepada pesantren di mana saya mengajar khususnya, dan semua lembaga pendidikan Islam pada umumnya. Untuk dapat tetap tegar dalam kondisi apapun. Al-Faatihah.

Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Search Here

Recent Posts

Categories

Most Popular

Total Pageviews

Yang di Unggulkan

Don’t Put Your Egg in One Basket

Saya coba menulis tentang investasi nih. Saya tertarik mengulas ini karena waktu itu saya berkesempatan untuk mengikuti ToT Pasar Modal Syar...

Bee

Bee
Bee

Pages