To Become Experts of Islamic Economic

Covid-nya Dari China, Barang Dagangannya Jangan Dong ...

Kalau sudah bicara Corona atau Covid-19 (Corona Virus Diseas 2019) pasti seru pembahasannya. Di Indonesia virus ini seperti lagunya Utopia "Antara Ada dan Tiada". Ada, karena orang yang meninggal disebabkan terjangkit virus ini sangat banyak. Bahkan virus ini masuk ke dalam istilah pandemi, yang artinya jangkauan wabahnya mencakup seluruh dunia. Tiada, terkhusus di Indonesia, virus yang cara memutus rantai penyebarannya ini harus cuci tangan, memakai maker dan social distancing hanya segelintir orang yang menerapkannya. Protokol kesehatan seperti tidak diindahkan. 

Bagaimanapun Covid-19 yang antara ada dan tiada ini, merubah pola kehidupan masyarakat tentunya. Peran digital dalam kehidupan sehari-hari semakin hari semakin meningkat. Sekolah dan kampus masih dianjurkan melalui jarak jauh hingga akhir tahun ini. Kantor menggunakan sistem shift dengan melakukan WFH (Work From Home) untuk mengurangi jumlah pegawai yang masuk. Supermarket menawarkan delivery order until mengurangi datangnya pengunjung. Bahkan kebutuhan pokok saja, seperti sayur dan ikan sudan bisa dibeli secara daring. Dan yang beli parah adalah PHK yang banyak terjadi, karena para perusahaan harus memangkas biaya produksi yang tidak terpenuhi.

Ada hal yang menarik karena perubahan pola kehidupan ini. Saat ini perkembangan bisnis online sangat pesat karena perubahan pola tersebut. Tanpa harus keluar rumah, kini rumah tangga sudah bisa menghasilkan pendapatan tambahan. Baik karena memproduksi sendiri apa yang akan dijual maupun menjadi perpanjangan tangan dari supplier yang sudah ada. Rumah tangga yang memproduksi sendiri perlahan bisa membuka lapangan pekerjaan bagi di sekitarnya. Sedangkan rumah tangga yang menjadi reseller dapat menambah penghasilan dalam keluarganya. Namun, yang membuat sedih adalah tak jarang bahkan banyak barang-barang yang dijual berasal dari negara yang terdikteksi virus Covid ini pertama kali. China. Sudah cukup virusnya saja, barangnya jangan lagi. 

Betul memang, harga yang ditawarkan bersaing. Tapi bagaimana dengan nasib pedangang dalam negeri? Lalu, apa hubungannya? Jelas ada hubungannya. Mari belajar dari Korea Selatan, saat ini mereka terkenal dengan produksi jasa layanan bedah plastik dan dibarengi dengan produksi barang yaitu kosmetik. Bagaimana cara pergerakan masif mereka, tanpa kita sadari dengan menonton drama korea, kita diinformasikan tentang produk yang dipakai si artis dan tak jarang mereka memberitakan metamorfosa wajah artis sebelum dan sesudah menjadi artis. Sangat halus mereka menjejali kita dengan informasi-informasi demikian. 

Tidak hanya korea selatan, Malaysia sangat gencar dalam memproduksi bidang jasa yakni jasa layangan keuangan syariah, mereka sangat terkenal dengan hasil-hasil riset yang berisu ekonomi Islam. Bahkan Malaysia, melalui IHAB (Internasional Halal Authority Board) menjadi salah satu tempat dunia membuat sertifikat halal bagi produk mereka.

Sulit memang, tapi jika bersatu apa yang tidak mungkin. Mari bantu pedagang dalam negeri dengan menjadi perpanjangan tangan dalam mendistribusikan barang mereka. Jika bisa memajukan negara sendiri, mengapa harus memajukan negara orang lain. Kita hidup di Indonesia, kita warga Indonesia, jika Indonesia dijajah maka sebenarnya yang terjajah adalah kita. 

Mari kembali ke produk dalam negeri. Aku, Kamu, Kita Bersama-sama.

NB: Tulisan ini saya persembahkan untuk teman saya Mawaddah Irham, karena kekhawatirannya tulisan ini muncul. Mudah-mudahan bisa dikembangkan lagi dan bisa sedikit mengedukasi.
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Search Here

Recent Posts

Categories

Most Popular

Total Pageviews

Yang di Unggulkan

Don’t Put Your Egg in One Basket

Saya coba menulis tentang investasi nih. Saya tertarik mengulas ini karena waktu itu saya berkesempatan untuk mengikuti ToT Pasar Modal Syar...

Bee

Bee
Bee

Pages