To Become Experts of Islamic Economic

Agar Bisa Berumur Panjang, Membaca dan Menulislah.

 Agar bisa berumur panjang, maka membaca dan menulislah. 

Inilah pesan lain yang ku tangkap usai membaca buku karangan Radinal Mukhtar Harahap yang berjudul "Literasi Santri". Secara pribadi mungkin orang berpikir, aku berlebihan, tapi memang begitulah kenyataannya. Di lembar-lembar awal buku, aku terharu karena malu. Ini buku ke dua setelah berbulan-bulan lamanya aku tidak pernah menghabiskan buku yang ku baca. Mungkin terlihat sederhana, tapi tidak dengan isinya. Bagiku sebagai penulis pemula, buku ini sangat membakar semangat untuk bisa berbagi dari cara yang aku bisa yaitu ilmu. Mari kita berjalan-jalan ke dunia baca-tulis yang ternyata sangat menyenangkan.

Buku ini dibuka dengan wahyu pertama yang disampaikan oleh Malaikat Jibril ke Nabi Muhammad SAW yaitu Iqra'. Bacalah. Dalam literasi bahasa Arab, Iqra' adalah kalimat perintah, yang artinya ada penekanan di sana. Makna yang tersirat adalah membaca adalah sebuah keharusan. Seperti pintu doraemon, maka ketika membaca kamu akan masuk ke dunia yang kamu inginkan. Membaca akan membangun sebuah peradaban. Maka tak heran, peradaban yang pertama kali terbangun adalah peradaban yang tercipta oleh umat Islam. Karena umat Islam dari awal kemunculannya di awali dengan kata perintah, BACALAH!

Mengapa susah menulis? 
Ya benar, karena tidak dibarengi dengan membaca. Di dalam buku ini, kita diingatkan juga agar tidak menjadi penulis yang menuliskan karyanya dengan asal jadi. Dengan kata lain jangan menyesatkan. 

Juga, setelah membaca jangan lupa untuk dituliskan, agar apa yang kamu tahu, tidak berhenti di kamu seorang diri. Begitu mudahnya mencari amal di tengah fitnah akhir zaman yang sangat menyeramkan ini bukan?. Membaca dan menulis atau menulis dan membaca adalah ibarat kembar siam yang tidak bisa dipisahkan. 

Ada kalimat yang saya garis bawahi dalam buku ini yang lagi-lagi membuat saya malu. Pernyataan H. Abdul Somad, Lc, MA yang beliau tuliskan pada sampul buku Warisan Intelektual Ulama Nusantara yaitu "Buku Warisan Intelektual Ulama Nusantara ini menyadarkan kita bahwa ternyata nenek moyang kita bukan copy-paste, tetapi pemikir, penulis, pejuang dan berdinamika. Kita malu menjadi generasi yang pasif. Buku ini membangkitkan spirit sekaligus cambuk kreativitas." Yang tebersit di benak saya adalah selama ini, waktuku sudah dihabiskan untuk apa saja? Bagaimana dengan kamu?

Jihad. Bahwa menulis dan membaca adalah jihadnya masa kini. Bahwa menulis adalah bentuk dari pembuktian diri. Bahwa menulis tidak harus yang berat-berat, asal tulisan itu memiliki manfaat bagi pembaca maka tulisan itu sudah sampai pada tujuannya. Mari menulis, karena ketika menulis kita pasti melewati proses membaca. Sekali dayung satu dua pulau terlampaui, untung bukan?.
Maka mulailah dari sekarang, Jihad saat ini tidak mesti ke medan perangkan?, maka untuk hal-hal berikut apa kamu-pun tidak sanggup untuk melewatinya?

"Apakah ada jihad yang menunggu waktu luang?", "Menanti fasilitas terpenuhi?", "Mengharap pembimbing penuh dari huruf pertama hingga huruf terakhir?"

Bagaimana? Kamu berjiwa muda? kamu pasif atau aktif?

Saya pakai istilah berjiwa muda, karena sesungguhnya tidak ada kata tua atau terlambat dalam memulai apapun, belajar apapun. LONG LIFE EDUCATION. Ketika kita berhenti, maka artinya kita mati. Menurut saya mati secara makna lebih menyakitkan daripada mati secara jasad. Mati secara makna, kamu hidup tapi seperti orang mati. Astagfirullahal'azim.

Pada buku ini, kita akan disuguhkan banyak sekali karya dari orang-orang yang mengenyam pendidikan di pesantren, yang siswanya disebut dengan istilah SANTRI. 

Kamu santri? Membacalah!
Kamu santri? Menulislah!
Kamu santri? Berkaryalah!

Ingat! Peradaban berkembang berasal dari umat Muslim.
Dengan menulis walau jasadmu telah mati, tapi jiwamu tak akan pernah mati. 
Jiwamu, namamu dan tulisanmu masih terus bersama dengan para pembaca dan penikmat karyamu. 


Terima kasih Ust. Radinal M. Harahap. Semoga terus lahir karya-karya selanjutnya.
Dan juga dengan saya ..... Aamiin.
Bismillahirrahmanirrahim.


Share:

2 komentar:

  1. Tulisan ush arridha ini sederhana, tapi luar biasa, karena sesama orang yang sudah membaca buku "Literasi Santri". Beliau tidak hanya mengambil manfaat, tapi menulis manfaat dan berbagi. Luar biasa, semoga kita yang masih tertinggal jauh, dapat terus memupuk kegemaran untuk membaca dan pastinya menulis

    Syukron Ust Radinal Mukhtar Harahap, dan Syukron Ush Arridha Harahap

    Saya baru sadar ternyata keduanya bermarga Harahap, semoga saya yang tdk bermarga, juga tidak terus tertinggal dalam berkarya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih banyak Hardi ....
      Beneran terharu bacanya ....
      Semoga kita bisa sama-sama berumur panjang ya lewat karya ...

      Hapus

Search Here

Recent Posts

Categories

Most Popular

Total Pageviews

Yang di Unggulkan

Dialog Kepesantrenan: "Arah Pesantren dalam Masa Pandemi"

          Bertepatan dengan hari santri pada tanggal 22 Oktober 2020, Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Ar-Raudhatul Hasanah, mengadakan d...

Bee

Bee
Bee

Pages