To Become Experts of Islamic Economic

  • PERJALANAN

    Walau panjang, setiap perjalanan pasti menemukan tempat persinggahan yang abadi.

  • AIR

    Air sumber kehidupan, ku abadikan sumber kehidupanku di sini.

  • MESJID BAITURRAHMAN

    Sampai di sini itu perlu keyakinan, karena YAKIN maka sampai.

  • MOTIVASI

    Hal yang paling sulit itu adalah memotivasi diri sendiri, tapi jangan menyerah! Jika menyerah artinya kamu kalah.

  • SAMPAI KE PUNCAK

    Yang namanya menuju puncak pasti sulit, kadang harus melewati turunan juga tak bisa mengelakkan tanjakan. Tapi teruslah berjalan hingga kau sampai kepuncak. Lalu bebaskanlah dirimu.

  • SANG PEMBELAJAR

    Tidak ada kata tua dalam belajar, hidup yang dijalani semuanya pembelajaran, disetiap pembelajaran selalu ada ujian, untuk mengevaluasi diri, sejauh apa pembelajaran itu dipahami dengan baik, maka jangan bosan untuk selalu belajar.

  • KADERISASI

    Agar ilmumu menjadi amal jariyah dan berkembang, sebarkan dan buatlah kaderisasi.

Dialog Kepesantrenan: "Arah Pesantren dalam Masa Pandemi"

    
    Bertepatan dengan hari santri pada tanggal 22 Oktober 2020, Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Ar-Raudhatul Hasanah, mengadakan dialog kepesantrenan dengan tema "Arah Pesantren dalam Masa Pandemi". Dialog ini mengundang pembicara dari tiga unsur yaitu STIT, Pesantren dan Guru. Dari STIT diwakili oleh KH. DR. Rasyidin Bina yang membahas tentang "Ketahanan Pesantren Sebagai Lembaga Pendidikan Islam", dari pesantren diwakili oleh Direktur Pesantren Ust. KH. Solihin Adin, MM yang membahas tentang "Kebijakan Pesantren di Masa Pandemi" dan terakhir dari kalangan guru diwakili oleh Ust. Kamaludin Hot Pasi, Lc yang membahas tentang "Perubahan Pesantren Dalam Sejarah dan Pemikiran".

Santri Kuat, Indonesia Sehat
    Slogan di atas adalah slogan yang digunakan pada hari santri kali ini. Tentunya ini sesuai dengan kondisi dunia internasional yang sedang menghadapi pandemi Covid-19. Istilah santri sangat erat kaitannya dengan siswa yang belajar di lembaga pendidikan yang disebut dengan pesantren. Pada masa pandemi ini, hanya pesantren yang diizinkan untuk mengikuti program KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) tatap muka. Bukan tidak mengindahkan apa yang dianjurkan oleh pemerintah, tapi sedikit kemungkinan pesantren bisa melakukan kegiatan KBM dengan proses daring. Alasan yang pertama adalah murid-murid yang belajar di pesantren bukan berasal dari satu kota tertentu saja, ada yang berasal dari luar daerah bahkan pelosok daerah yang susah untuk mengakses internet. Kedua, pelajaran yang diajarkan di pesantren bukan pelajaran umum saja, atau dengan kata lain pelajaran yang disampaikan dengan bahasa Indonesia atau Inggris, tapi juga ada pelajaran bahasa Arab, seperti membaca kitab, mahfuzot, tafsir, nahwu dan lainnya yang tidak bisa dihandle oleh orang tua, seperti pelajaran daring yang dilakukan oleh sekolah non-pesantren. 

    Maka dari itu, pesantren tidak bisa melakukan KBM melalui daring. Untuk itu, maka pesantren memperbaiki sistem dalam pelaksanaan sehari-hari. Ust. KH. Solihin Adin, MM menyatakan bahwa pesantren merubah setiap sudut fasilitasnya dengan protokol kesehatan, seperti dibangunnya tempat cuci tangan dan penyediaan sabun di tempat-tempat strategis khususnya di depan asrama. Kebijakan yang lain adalah diwajibkannya penggunaan masker, guru yang tinggal di luar asrama harus cuci tangan sebelum masuk di depan gerbang, sementara ini orang tua hanya boleh menitipkan barang saja di pos satpam dengan kata lain tidak dibukanya jam berkunjung selama pandemi dan berbagai kebijakan lain yang disesuaikan dengan keadaan pandemi. Maka, yang diharapkan adalah kerjasama yang baik seluruh pihak, orang tua, guru-guru, santri, karyawan atau siapapun yang bersinggungan dengan pesantren. Kepada seluruhnya terkhusus orang tua untuk bisa mendo'akan guru-guru dan anaknya agar dapat beraktivitas dengan baik dan pastinya sehat. Kita sudah berusaha dan yang terakhir adalah berdo'a kepada Allah swt semoga kita semua dilindungiNya.

    Pada kesempatan dialog saat itu juga dikatakan bahwa dalam sejarahnya santri juga memiliki andil dalam kemerdekaan Indonesia. Dan saat ini santri melalui pesantren juga berkontribusi dalam mencerdaskan anak bangsa melalui kurikulum yang dimilikinya. Melalui pemaparan ust. Kamal, pesantren terus bermetamorfosa dari tradisional, semi modern hingga modern. Sehingga, saat ini pesantren menjadi salah satu lembaga pendidikan yang bisa diandalkan. Pastinya dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai keIslaman yang menjadi asas pendirian pesantren.

    KH. DR. Rasyidin Bina berujar, bahwa setiap elemen dari huruf yang membentuk kata santri, masing-masing memiliki makna yaitu; S untuk Survive Anywhere, A untuk Agent of Change, N untuk Nasionalisme, T untuk Time Update, R untuk Religius Rasional, dan I untuk Intelektual Influence. Dari setiap pemaknaan tersebut penulis menyimpulkan bahwa pesantren sedang dan akan terus mempersiapkan dirinya sebagai lembaga dan santrinya sebagai seorang muslim yang kokoh, intelektual, pastinya juga taat. Bahwa pesantren dengan sistem yang dimilikinya merupakan benteng pertahanan yang kuat untuk juga andil dalam perkembangan peradaban, khususnya peradaban Islam.

    Dan terakhir saya memohon doa kepada seluruh pembaca, untuk membacakan doa kepada pesantren di mana saya mengajar khususnya, dan semua lembaga pendidikan Islam pada umumnya. Untuk dapat tetap tegar dalam kondisi apapun. Al-Faatihah.

Share:

Covid-nya Dari China, Barang Dagangannya Jangan Dong ...

Kalau sudah bicara Corona atau Covid-19 (Corona Virus Diseas 2019) pasti seru pembahasannya. Di Indonesia virus ini seperti lagunya Utopia "Antara Ada dan Tiada". Ada, karena orang yang meninggal disebabkan terjangkit virus ini sangat banyak. Bahkan virus ini masuk ke dalam istilah pandemi, yang artinya jangkauan wabahnya mencakup seluruh dunia. Tiada, terkhusus di Indonesia, virus yang cara memutus rantai penyebarannya ini harus cuci tangan, memakai maker dan social distancing hanya segelintir orang yang menerapkannya. Protokol kesehatan seperti tidak diindahkan. 

Bagaimanapun Covid-19 yang antara ada dan tiada ini, merubah pola kehidupan masyarakat tentunya. Peran digital dalam kehidupan sehari-hari semakin hari semakin meningkat. Sekolah dan kampus masih dianjurkan melalui jarak jauh hingga akhir tahun ini. Kantor menggunakan sistem shift dengan melakukan WFH (Work From Home) untuk mengurangi jumlah pegawai yang masuk. Supermarket menawarkan delivery order until mengurangi datangnya pengunjung. Bahkan kebutuhan pokok saja, seperti sayur dan ikan sudan bisa dibeli secara daring. Dan yang beli parah adalah PHK yang banyak terjadi, karena para perusahaan harus memangkas biaya produksi yang tidak terpenuhi.

Ada hal yang menarik karena perubahan pola kehidupan ini. Saat ini perkembangan bisnis online sangat pesat karena perubahan pola tersebut. Tanpa harus keluar rumah, kini rumah tangga sudah bisa menghasilkan pendapatan tambahan. Baik karena memproduksi sendiri apa yang akan dijual maupun menjadi perpanjangan tangan dari supplier yang sudah ada. Rumah tangga yang memproduksi sendiri perlahan bisa membuka lapangan pekerjaan bagi di sekitarnya. Sedangkan rumah tangga yang menjadi reseller dapat menambah penghasilan dalam keluarganya. Namun, yang membuat sedih adalah tak jarang bahkan banyak barang-barang yang dijual berasal dari negara yang terdikteksi virus Covid ini pertama kali. China. Sudah cukup virusnya saja, barangnya jangan lagi. 

Betul memang, harga yang ditawarkan bersaing. Tapi bagaimana dengan nasib pedangang dalam negeri? Lalu, apa hubungannya? Jelas ada hubungannya. Mari belajar dari Korea Selatan, saat ini mereka terkenal dengan produksi jasa layanan bedah plastik dan dibarengi dengan produksi barang yaitu kosmetik. Bagaimana cara pergerakan masif mereka, tanpa kita sadari dengan menonton drama korea, kita diinformasikan tentang produk yang dipakai si artis dan tak jarang mereka memberitakan metamorfosa wajah artis sebelum dan sesudah menjadi artis. Sangat halus mereka menjejali kita dengan informasi-informasi demikian. 

Tidak hanya korea selatan, Malaysia sangat gencar dalam memproduksi bidang jasa yakni jasa layangan keuangan syariah, mereka sangat terkenal dengan hasil-hasil riset yang berisu ekonomi Islam. Bahkan Malaysia, melalui IHAB (Internasional Halal Authority Board) menjadi salah satu tempat dunia membuat sertifikat halal bagi produk mereka.

Sulit memang, tapi jika bersatu apa yang tidak mungkin. Mari bantu pedagang dalam negeri dengan menjadi perpanjangan tangan dalam mendistribusikan barang mereka. Jika bisa memajukan negara sendiri, mengapa harus memajukan negara orang lain. Kita hidup di Indonesia, kita warga Indonesia, jika Indonesia dijajah maka sebenarnya yang terjajah adalah kita. 

Mari kembali ke produk dalam negeri. Aku, Kamu, Kita Bersama-sama.

NB: Tulisan ini saya persembahkan untuk teman saya Mawaddah Irham, karena kekhawatirannya tulisan ini muncul. Mudah-mudahan bisa dikembangkan lagi dan bisa sedikit mengedukasi.
Share:

Agar Bisa Berumur Panjang, Membaca dan Menulislah.

 Agar bisa berumur panjang, maka membaca dan menulislah. 

Inilah pesan lain yang ku tangkap usai membaca buku karangan Radinal Mukhtar Harahap yang berjudul "Literasi Santri". Secara pribadi mungkin orang berpikir, aku berlebihan, tapi memang begitulah kenyataannya. Di lembar-lembar awal buku, aku terharu karena malu. Ini buku ke dua setelah berbulan-bulan lamanya aku tidak pernah menghabiskan buku yang ku baca. Mungkin terlihat sederhana, tapi tidak dengan isinya. Bagiku sebagai penulis pemula, buku ini sangat membakar semangat untuk bisa berbagi dari cara yang aku bisa yaitu ilmu. Mari kita berjalan-jalan ke dunia baca-tulis yang ternyata sangat menyenangkan.

Buku ini dibuka dengan wahyu pertama yang disampaikan oleh Malaikat Jibril ke Nabi Muhammad SAW yaitu Iqra'. Bacalah. Dalam literasi bahasa Arab, Iqra' adalah kalimat perintah, yang artinya ada penekanan di sana. Makna yang tersirat adalah membaca adalah sebuah keharusan. Seperti pintu doraemon, maka ketika membaca kamu akan masuk ke dunia yang kamu inginkan. Membaca akan membangun sebuah peradaban. Maka tak heran, peradaban yang pertama kali terbangun adalah peradaban yang tercipta oleh umat Islam. Karena umat Islam dari awal kemunculannya di awali dengan kata perintah, BACALAH!

Mengapa susah menulis? 
Ya benar, karena tidak dibarengi dengan membaca. Di dalam buku ini, kita diingatkan juga agar tidak menjadi penulis yang menuliskan karyanya dengan asal jadi. Dengan kata lain jangan menyesatkan. 

Juga, setelah membaca jangan lupa untuk dituliskan, agar apa yang kamu tahu, tidak berhenti di kamu seorang diri. Begitu mudahnya mencari amal di tengah fitnah akhir zaman yang sangat menyeramkan ini bukan?. Membaca dan menulis atau menulis dan membaca adalah ibarat kembar siam yang tidak bisa dipisahkan. 

Ada kalimat yang saya garis bawahi dalam buku ini yang lagi-lagi membuat saya malu. Pernyataan H. Abdul Somad, Lc, MA yang beliau tuliskan pada sampul buku Warisan Intelektual Ulama Nusantara yaitu "Buku Warisan Intelektual Ulama Nusantara ini menyadarkan kita bahwa ternyata nenek moyang kita bukan copy-paste, tetapi pemikir, penulis, pejuang dan berdinamika. Kita malu menjadi generasi yang pasif. Buku ini membangkitkan spirit sekaligus cambuk kreativitas." Yang tebersit di benak saya adalah selama ini, waktuku sudah dihabiskan untuk apa saja? Bagaimana dengan kamu?

Jihad. Bahwa menulis dan membaca adalah jihadnya masa kini. Bahwa menulis adalah bentuk dari pembuktian diri. Bahwa menulis tidak harus yang berat-berat, asal tulisan itu memiliki manfaat bagi pembaca maka tulisan itu sudah sampai pada tujuannya. Mari menulis, karena ketika menulis kita pasti melewati proses membaca. Sekali dayung satu dua pulau terlampaui, untung bukan?.
Maka mulailah dari sekarang, Jihad saat ini tidak mesti ke medan perangkan?, maka untuk hal-hal berikut apa kamu-pun tidak sanggup untuk melewatinya?

"Apakah ada jihad yang menunggu waktu luang?", "Menanti fasilitas terpenuhi?", "Mengharap pembimbing penuh dari huruf pertama hingga huruf terakhir?"

Bagaimana? Kamu berjiwa muda? kamu pasif atau aktif?

Saya pakai istilah berjiwa muda, karena sesungguhnya tidak ada kata tua atau terlambat dalam memulai apapun, belajar apapun. LONG LIFE EDUCATION. Ketika kita berhenti, maka artinya kita mati. Menurut saya mati secara makna lebih menyakitkan daripada mati secara jasad. Mati secara makna, kamu hidup tapi seperti orang mati. Astagfirullahal'azim.

Pada buku ini, kita akan disuguhkan banyak sekali karya dari orang-orang yang mengenyam pendidikan di pesantren, yang siswanya disebut dengan istilah SANTRI. 

Kamu santri? Membacalah!
Kamu santri? Menulislah!
Kamu santri? Berkaryalah!

Ingat! Peradaban berkembang berasal dari umat Muslim.
Dengan menulis walau jasadmu telah mati, tapi jiwamu tak akan pernah mati. 
Jiwamu, namamu dan tulisanmu masih terus bersama dengan para pembaca dan penikmat karyamu. 


Terima kasih Ust. Radinal M. Harahap. Semoga terus lahir karya-karya selanjutnya.
Dan juga dengan saya ..... Aamiin.
Bismillahirrahmanirrahim.


Share:

Search Here

Recent Posts

Categories

Most Popular

Total Pageviews

Yang di Unggulkan

Dialog Kepesantrenan: "Arah Pesantren dalam Masa Pandemi"

          Bertepatan dengan hari santri pada tanggal 22 Oktober 2020, Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Ar-Raudhatul Hasanah, mengadakan d...

Bee

Bee
Bee

Pages