To Become Experts of Islamic Economic

Antara Ibu Bekerja dan Ibu Tidak Bekerja

Aku seorang ibu bekerja. Bukan hanya itu, aku memang suka beraktivitas di luar rumah dengan segala keribetannya. Mengerjakan urusan kantor lebih menyenangkan dari mengerjakan kegiatan rumah. Mengerjakan urusan organisasi lebih menyenangkan daripada hanya sekedar memasak. Ya, begitulah yang aku rasakan. Ini bukan tanpa sebab, karena suatu alasan sejak kuliah aku lebih suka berada di luar rumah. Rumah benar-benar hanya tempat istirahat yang besok paginya kembali beraktivitas, untuk mengerjakan tugas kampus, organisasi, atau hanya sekedar jalan-jalan ke toko buku. 

Jujur saja, aku bukan orang yang betah lama-lama bermain dengan anak-anak. TAPI, bukan berarti aku terganggu dengan kehadiran anak kecil jika berada disekitarku. Melihat lucunya tingkah mereka, dengan muka polos yang tanpa dosa, dan mendengarkan kecelatan berbicara itu sesuatu yang menyenangkan. Sampai pada akhirnya, aku harus berhadapan dengan anakku sendiri, wow (tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata). 

Seiring berjalannya waktu, karena aku senang bekerja dan sekaligus punya anak, aku harus pintar-pintar membagi waktu dengan mereka. Rasa tanggung jawab untuk membesarkan dan memberikan mereka kehidupan yang baik itu ada di dalam diri. Ini sudah masalah amanah, lebih besar dari hanya sekedar rasa tanggung jawab. Siapa yang berani bermain-bermain dengan kepunyaan Allah ini. Walau lelah bekerja, tapi hak mereka untuk mendapat rasa kasih dan sayang yang dititipkan Allah melalui orang tuanya. 

Khususnya aku, aku berbenturan dengan kesenanganku bekerja. Dipertanyakan akan hal pengurusan anak bahasa halus dari diremehkan, sudah biasa. Pernyataan seperti "ih, jadinya anaknya makan apa", "ih, kok percaya ya anaknya dititipin gitu ke orang", "jadi kalau makan beli, gk masak", "nanti anaknya lebih dekat dengan orang lain loh" dan lain sebagainya. Sukur punya hati batu. Dalam hati "emang dirimu siapa berani seenaknya menilai", "emang dirimu tahu apa yang aku kerjakan di rumah", dan sebagainya.

Teman, bukan karena aku ibu bekerja bahkan gila kerja aku berkata ini. Ayolah, tidak ada bedanya ibu bekerja dan ibu tidak bekerja. Dua-duanya ibu. Please Open Your Mind! Naluri sudah diciptakan Allah kepada perempuan yang dititipi anak. Hewan saja begitu, konon kita ini manusia. Jangan mengomentari hal-hal yang kamu sendiri tidak memiliki data yang cukup tentang itu. Masing-masing ibu memiliki caranya sendiri-sendiri bagaimana ia merawat anaknya. Ibu bekerja dan tidak bekerja itu sama tinggi derajatnya, sama-sama merasakan lelah, sama-sama merasakan stres, dan pastinya juga sama-sama merasakan bahagia. Ibu bekerja dan tidak bekerja itu sama-sama disebut ibu. Bahkan seseorang yang mengadopsi anakpun disebut ibu, konon lagi kita yang memang dikarunia anak dari rahim kita sendiri.

Jangan saling menjatuhkan. Ibu bekerja baik, Ibu tidak bekerja juga baik. Sama baiknya. Saling supportlah. Jika ada yang salah, dinasehati dengan cara yang benar, bukan menjadi bahan gosip. Kita terlihat baik di mata manusia, karena Allah menutup aib kita dari semua orang. 

Ibu bekerja dan Ibu tidak bekerja adalah ibu bagi anak-anaknya.
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Search Here

Recent Posts

Categories

Most Popular

Total Pageviews

Yang di Unggulkan

Don’t Put Your Egg in One Basket

Saya coba menulis tentang investasi nih. Saya tertarik mengulas ini karena waktu itu saya berkesempatan untuk mengikuti ToT Pasar Modal Syar...

Bee

Bee
Bee

Pages