Islamic Economic Activist . A Beginner Writer

Belajar Ikhlas

Suatu sore kami bercengkrama di kantor. Salah satu teman dekatku yang sedikit tahu cerita tentang kehidupanku berkata “Kalau saja ada sedikit kesempatan, cerita hidupmu ingin kujadikan sebuah karya”. Ucapan ini juga pernah aku dengar dari temanku yang lain. Hanya teman yang dulu tak mengatakan judul. Temanku yang kali ini menyebutkan kalau karya itu akan dia beri titel “Belajar Ikhlas”.

Segitunya ya, terdetak dalam hati. Belajar Ikhlas. 
Dua kata yang sangat singkat dan padat tapi sulit dijalankan.
Tepat 15 tahun yang lalu, aku pernah “marah-marah” dengan Tuhan. Walaupun begitu dalam kesehariannya aku tetap menjalankan perintahNya. Tuhan mengambil seluruh keluargaku secara bersamaan. Saat itu, di saat yang bersamaan, aku kecewa dengan Ayah. Seminggu sebelum Ayah meninggal, Ayah bercerita dengan salah satu teman kantornya bahwa hidupnya tidak lama lagi. Beliau mengkhawatirkan anak ke-duanya harus tinggal di mana ketika beliau meninggal. Sedikit cerita, bahwa adek perempuanku ini beda dengan anak yang biasanya. Aku kecewa dengan Ayah karena Ayah tidak bercerita denganku apa yang beliau prediksi. Pikirku kala itu biar aku bisa bersiap, walaupun tak cukup kuat. Tapi, saat ini aku berfikir bahwa mungkin waktu itu Ayah tak ingin membuat anaknya bersedih. Hingga dalam perjalanannya aku menarik kesimpulan, tidak semua hal yang ingin kita pertanyakan harus ditanyakan, ada saatnya pertanyaannya itu disimpan saja dalam hati dahulu dan akan terjawab seiring berjalannya waktu.

Jika ditanya sekarang, bagaimana kondisi ragaku saat ini, Alhamdulillah aku sehat. Tapi jika ditanya tentang psikis, itu dia, aku tak terlalu tahu jawabannya. Menjalani hidup tanpa orang tua dengan harus mengambil keputusan di saat-saat yang genting, membuatku merasa tak membutuhkan orang lain. Dulu aku berkata dalam hati, “Aku mampu menjalaninya sendirian”. Hal ini tak sepenuhnya benar, karena tak mungkin ada manusia yang bisa benar-benar hidup sendiri. Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk sosial, maka semampu-mampunya dia menyelesaikan masalahnya sendiri, dia pasti bersentuhan dengan orang lain dalam penyelesaiannya itu. Aku tak pernah benar-benar memeriksa psikisku saat itu, hanya kata temanku yang psikolog, bahwa proses healing-ku terlalu cepat untuk ukuran orang yang ditinggal mendadak oleh keluarganya. hmmm…. ntahlah. Tidak ada masalah benar-benar selesai, bahkan setelah matipun kita masih harus bertanggung jawab dengan perbuatan kita di dunia, sampai akhirnya kita benar-benar beristirahat di Surga-Nya atau bekerja keras di Neraka-Nya.

Belum selesai proses healing-ku yang pertama, sekarang aku sedang melalui proses healing-ku yang kedua. Sebuah pengalaman hidup yang tak bisa ku tuliskan di sini. Akan tetapi ada obat yang sama yang harus diberikan, yaitu Ikhlas. 

Aku selalu bermasalah pada pikiran. Pikiran negatif terlalu kuat dalam diriku untuk beberapa hal. Aku bukan beralasan, tapi memang itu yang terjadi, ada banyak hal dalam hidupku yang terjadi sehingga membuatku selalu merasa was-was. Hidup yang ku jalani sangat jauh dari kehidupan orang pada umumnya, walaupun secara kasat mata orang melihat hidupku yang “nyaman-nyaman” saja. Setiap orang yang kenal aku secara kasat mata selalu bilang, “apalagi yang mau dicari, semua sudah ada”, “apalagi yang kurang”, “kamu tuh udah enak kali hidupnya”, “udah jalani aja”, “semuanya itu ada dalam hati”, begitulah komentar-komentar orang yang ku temui bahkan orang-orang terdekat juga berkata yang sama.

Aku jadi merasa bersalah, apa aku kufur?

Pada akhirnya aku hidup karena pandangan mereka, tidak benar-benar karena keinginanku. Mungkin karena caraku menyelesaikan masalah selalu dianggap menyimpang, bahkan menurut orang terdekatku sendiri. hmmm…. ntahlah. Semuanya selalu senyap saja. Lagi-lagi aku tetap harus menyelesaikannya sendirian. Yah, anggap sajalah aku kuat atau memaksa diri untuk kuat.

Jika ditanya sekarang, apa keinginanmu saat ini?
Aku ingin pergi dari orang-orang yang mengenalku di sini.
Menjalani kehidupanku yang baru, dengan orang-orang baru.
Aku punya caranya, untuk itu aku harus berjuang agar keinginanku terkabul.
Aku hanya ingin meyakinkan diri bahwa caraku benar kali ini, dan Allah meridhoinya.
Hari ini, Aku berdo’a. Untuk kehidupanku di bulan-bulan berikutnya. Agar aku tetap “waras”, kuat, sehat, dan terbiasa sendiri, lagi. Kembali menjalani kehidupan dengan akal bukan dengan perasaan. 

Karena sendiri tak selamanya melambangkan kesedihan, sama seperti berdua tak selamanya melambangkan kebahagiaan. 

Aku Rindu Ayah


Hari di mana jatah kehidupanku berkurang di dunia
5 Januari 1986 M / 23 Rabiul Tsani 1406 H

5 Januari 2020

Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Search Here

Recent Posts

Categories

Most Popular

Total Pageviews

Yang di Unggulkan

Al-Baqarah Dan Kantong Ajaibku

Pada empat halaman awal, tak terlalu sulit untuk menghafal surat ini. Hal ini dikarenakan ayat-ayatnya masih familiar. Tantangan dimulai di...

Bee

Bee
Bee

Pages