Islamic Economic Activist . A Beginner Writer

  • PERJALANAN

    Walau panjang, setiap perjalanan pasti menemukan tempat persinggahan yang abadi.

  • AIR

    Air sumber kehidupan, ku abadikan sumber kehidupanku di sini.

  • MESJID BAITURRAHMAN

    Sampai di sini itu perlu keyakinan, karena YAKIN maka sampai.

  • MOTIVASI

    Hal yang paling sulit itu adalah memotivasi diri sendiri, tapi jangan menyerah! Jika menyerah artinya kamu kalah.

  • SAMPAI KE PUNCAK

    Yang namanya menuju puncak pasti sulit, kadang harus melewati turunan juga tak bisa mengelakkan tanjakan. Tapi teruslah berjalan hingga kau sampai kepuncak. Lalu bebaskanlah dirimu.

  • SANG PEMBELAJAR

    Tidak ada kata tua dalam belajar, hidup yang dijalani semuanya pembelajaran, disetiap pembelajaran selalu ada ujian, untuk mengevaluasi diri, sejauh apa pembelajaran itu dipahami dengan baik, maka jangan bosan untuk selalu belajar.

  • KADERISASI

    Agar ilmumu menjadi amal jariyah dan berkembang, sebarkan dan buatlah kaderisasi.

Sepotong Kenangan Kepala Barbie

Tak kelihatan tua
Walau sudah beranjak dewasa 
Bercerita apa saja
Dari yang rahasia sampai yang terbuka

Tak akan terganti
Penyimpan keluh kesah hati
Hadirnya tak akan dirasakan lagi kini
Semua cerita telah dibawanya pergi

Teringat akan kepala barbie
Kaki yang bergetar
Lari yang tak karuan
Dasar aku, 
Tapi itu bukan karena benciku
Hanya keisengan antara kakak dan adik

Orang lain tak akan merasakan yang kami rasa
Memilikinya anugrah 
Anak yang istimewa 
Menjadi alarm bagi siapa saja yang singgah
Ikhlas atau tidak menerimanya

Rindu kamu sayang
Semoga kamu menggenggam erat tanganku nanti
Semoga kamu memanggil namaku nanti
Walau aku sering memberimu kepala barbie
Itu karena CINTAKU bukan karena benciku

Aderina Harahap
12 Ramadhan 1441 H
5 Mei 2020



Share:

Aku Bukan Siapa-Siapa Dan Tidak Memiliki Apa-Apa

Perjalanan hidup yang kita tidak tahu kapan berakhirnya
Akankah kita berakhir pada masa kekacauan tiba (red: kiamat)
Atau kita berakhir sebelum masa itu datang
Yang pasti kita hanya dituntut oleh Sang Pencipta untuk tak lengah

Masalah yang datang kepada setiap manusia berbeda-beda
Pastinya masalah yang datang kepada setiap manusia tersebut sesuai kadar dirinya

Sering kali aku terpaku pada kehidupan yang kujalani
Kisah bahagia? Aku lupa kapan terakhir kali aku merasakannya
Atau mungkin bahagia itu ada, tapi aku tak merasakannya
Tapi yang orang lain lihat, aku bahagia

Bagaimana dengan kamu?
Di mana letak salahnya anggapan seperti ini?

Untuk itu, saat ini aku memiliki jawaban sendiri
Atas perjalanan yang sudah kujalani

Aku bukan siapa-siapa
Aku tak memiliki apa-apa
Dua kalimat ini buatku merasa menjadi orang bebas
Dua kalimat ini membuatku untuk tak takut dijatuhkan, dicemooh, dihina atau yang lainnya karena aku bukan siapa-siapa
Dua kalimat itu membuatku untuk tak takut kehilangan karena aku tak memiliki apa-apa

Karena pada dasarnya semua sandangan adalah Allah
Semua kepemilikan adalah punya Allah
Insya Allah bahagia dalam hati itu akan datang
Semoga


5 Ramadhan 1441 H
Share:

Sungai Lumut

Catatan Perjalanan 

Cerah pagi ini 
Tapak kaki mengantarku ke daerah ini 
Daerah yang aku berpartri dalam hati hanya satu kali ini 

Tidak ada yang spesial memang 
Tidak ada gedung pencakar langit 
Tidak ada gedung-gedung modern 
Tidak ada mall 

Tapi .... 
Aku suka suasana tenangnya 
Yang membuat spesial adalah 
Pantai ya pantai 
Setidaknya bisa sedikit mengobati rindu atas tanah kecil yg pernah aku tempati 
Ada banyak sekali pantai di sana 

Ada banyak hal yang harus ditata di sini 
Terutama hati 
Memohon pada sang ilahi 
Bahwa aku harus bertransformasi 
Terus menjadi lebih baik lagi 
Aamiin 

Akhir maret
Share:

Hilang

Bagaimana hidupmu akhir-akhir ini ....
Semua yang membaca blog ini, aku berharap, bagaimanapun hidup kalian akhir-akhir ini kalian harus tetap tersenyum, bersyukur dan pasrah ...

Pernah kamu merasa dirimu hilang di suatu fase kehidupanmu?
Apa yang kamu rasa kala itu?
Bagaimana kamu melaluinya?

Ya .. mungkin masing-masing kita pernah merasakan hal itu
Dan masing-masing kita punya cara sendiri- sendiri untuk berdamai dengan keadaan itu

Pintaku ...
Bagaimanapun kamu melaluinya
Berhusnudzon lah kepada Allah ...
Seburuk apapun yang kamu rasa ...
Kamu masih pantas meminta ... meminta kepada Rabbmu
Terus saja ... jangan berhenti ... sampai kamu jumpa dengan dirimu yang baru
Bukan dirimu yang dulu
Yang baru .. yang lebih baik dan bahkan bertambah baik dari sebelumnya

Karena akupun sedang berusaha
Berusaha terus
Terus tanpa henti
Karena jika berhenti
Maka aku akan kehilangan diriku untuk kesekian kalinya

Share:

Belajar Ikhlas

Suatu sore kami bercengkrama di kantor. Salah satu teman dekatku yang sedikit tahu cerita tentang kehidupanku berkata “Kalau saja ada sedikit kesempatan, cerita hidupmu ingin kujadikan sebuah karya”. Ucapan ini juga pernah aku dengar dari temanku yang lain. Hanya teman yang dulu tak mengatakan judul. Temanku yang kali ini menyebutkan kalau karya itu akan dia beri titel “Belajar Ikhlas”.

Segitunya ya, terdetak dalam hati. Belajar Ikhlas. 
Dua kata yang sangat singkat dan padat tapi sulit dijalankan.
Tepat 15 tahun yang lalu, aku pernah “marah-marah” dengan Tuhan. Walaupun begitu dalam kesehariannya aku tetap menjalankan perintahNya. Tuhan mengambil seluruh keluargaku secara bersamaan. Saat itu, di saat yang bersamaan, aku kecewa dengan Ayah. Seminggu sebelum Ayah meninggal, Ayah bercerita dengan salah satu teman kantornya bahwa hidupnya tidak lama lagi. Beliau mengkhawatirkan anak ke-duanya harus tinggal di mana ketika beliau meninggal. Sedikit cerita, bahwa adek perempuanku ini beda dengan anak yang biasanya. Aku kecewa dengan Ayah karena Ayah tidak bercerita denganku apa yang beliau prediksi. Pikirku kala itu biar aku bisa bersiap, walaupun tak cukup kuat. Tapi, saat ini aku berfikir bahwa mungkin waktu itu Ayah tak ingin membuat anaknya bersedih. Hingga dalam perjalanannya aku menarik kesimpulan, tidak semua hal yang ingin kita pertanyakan harus ditanyakan, ada saatnya pertanyaannya itu disimpan saja dalam hati dahulu dan akan terjawab seiring berjalannya waktu.

Jika ditanya sekarang, bagaimana kondisi ragaku saat ini, Alhamdulillah aku sehat. Tapi jika ditanya tentang psikis, itu dia, aku tak terlalu tahu jawabannya. Menjalani hidup tanpa orang tua dengan harus mengambil keputusan di saat-saat yang genting, membuatku merasa tak membutuhkan orang lain. Dulu aku berkata dalam hati, “Aku mampu menjalaninya sendirian”. Hal ini tak sepenuhnya benar, karena tak mungkin ada manusia yang bisa benar-benar hidup sendiri. Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk sosial, maka semampu-mampunya dia menyelesaikan masalahnya sendiri, dia pasti bersentuhan dengan orang lain dalam penyelesaiannya itu. Aku tak pernah benar-benar memeriksa psikisku saat itu, hanya kata temanku yang psikolog, bahwa proses healing-ku terlalu cepat untuk ukuran orang yang ditinggal mendadak oleh keluarganya. hmmm…. ntahlah. Tidak ada masalah benar-benar selesai, bahkan setelah matipun kita masih harus bertanggung jawab dengan perbuatan kita di dunia, sampai akhirnya kita benar-benar beristirahat di Surga-Nya atau bekerja keras di Neraka-Nya.

Belum selesai proses healing-ku yang pertama, sekarang aku sedang melalui proses healing-ku yang kedua. Sebuah pengalaman hidup yang tak bisa ku tuliskan di sini. Akan tetapi ada obat yang sama yang harus diberikan, yaitu Ikhlas. 

Aku selalu bermasalah pada pikiran. Pikiran negatif terlalu kuat dalam diriku untuk beberapa hal. Aku bukan beralasan, tapi memang itu yang terjadi, ada banyak hal dalam hidupku yang terjadi sehingga membuatku selalu merasa was-was. Hidup yang ku jalani sangat jauh dari kehidupan orang pada umumnya, walaupun secara kasat mata orang melihat hidupku yang “nyaman-nyaman” saja. Setiap orang yang kenal aku secara kasat mata selalu bilang, “apalagi yang mau dicari, semua sudah ada”, “apalagi yang kurang”, “kamu tuh udah enak kali hidupnya”, “udah jalani aja”, “semuanya itu ada dalam hati”, begitulah komentar-komentar orang yang ku temui bahkan orang-orang terdekat juga berkata yang sama.

Aku jadi merasa bersalah, apa aku kufur?

Pada akhirnya aku hidup karena pandangan mereka, tidak benar-benar karena keinginanku. Mungkin karena caraku menyelesaikan masalah selalu dianggap menyimpang, bahkan menurut orang terdekatku sendiri. hmmm…. ntahlah. Semuanya selalu senyap saja. Lagi-lagi aku tetap harus menyelesaikannya sendirian. Yah, anggap sajalah aku kuat atau memaksa diri untuk kuat.

Jika ditanya sekarang, apa keinginanmu saat ini?
Aku ingin pergi dari orang-orang yang mengenalku di sini.
Menjalani kehidupanku yang baru, dengan orang-orang baru.
Aku punya caranya, untuk itu aku harus berjuang agar keinginanku terkabul.
Aku hanya ingin meyakinkan diri bahwa caraku benar kali ini, dan Allah meridhoinya.
Hari ini, Aku berdo’a. Untuk kehidupanku di bulan-bulan berikutnya. Agar aku tetap “waras”, kuat, sehat, dan terbiasa sendiri, lagi. Kembali menjalani kehidupan dengan akal bukan dengan perasaan. 

Karena sendiri tak selamanya melambangkan kesedihan, sama seperti berdua tak selamanya melambangkan kebahagiaan. 

Aku Rindu Ayah


Hari di mana jatah kehidupanku berkurang di dunia
5 Januari 1986 M / 23 Rabiul Tsani 1406 H

5 Januari 2020

Share:

Search Here

Recent Posts

Categories

Most Popular

Total Pageviews

Yang di Unggulkan

Sepotong Kenangan Kepala Barbie

Tak kelihatan tua Walau sudah beranjak dewasa  Bercerita apa saja Dari yang rahasia sampai yang terbuka Tak akan terganti Penyimp...

Bee

Bee
Bee

Pages