To Become Experts of Islamic Economic

  • PERJALANAN

    Walau panjang, setiap perjalanan pasti menemukan tempat persinggahan yang abadi.

  • AIR

    Air sumber kehidupan, ku abadikan sumber kehidupanku di sini.

  • MESJID BAITURRAHMAN

    Sampai di sini itu perlu keyakinan, karena YAKIN maka sampai.

  • MOTIVASI

    Hal yang paling sulit itu adalah memotivasi diri sendiri, tapi jangan menyerah! Jika menyerah artinya kamu kalah.

  • SAMPAI KE PUNCAK

    Yang namanya menuju puncak pasti sulit, kadang harus melewati turunan juga tak bisa mengelakkan tanjakan. Tapi teruslah berjalan hingga kau sampai kepuncak. Lalu bebaskanlah dirimu.

  • SANG PEMBELAJAR

    Tidak ada kata tua dalam belajar, hidup yang dijalani semuanya pembelajaran, disetiap pembelajaran selalu ada ujian, untuk mengevaluasi diri, sejauh apa pembelajaran itu dipahami dengan baik, maka jangan bosan untuk selalu belajar.

  • KADERISASI

    Agar ilmumu menjadi amal jariyah dan berkembang, sebarkan dan buatlah kaderisasi.

Dialog Kepesantrenan: "Arah Pesantren dalam Masa Pandemi"

    
    Bertepatan dengan hari santri pada tanggal 22 Oktober 2020, Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Ar-Raudhatul Hasanah, mengadakan dialog kepesantrenan dengan tema "Arah Pesantren dalam Masa Pandemi". Dialog ini mengundang pembicara dari tiga unsur yaitu STIT, Pesantren dan Guru. Dari STIT diwakili oleh KH. DR. Rasyidin Bina yang membahas tentang "Ketahanan Pesantren Sebagai Lembaga Pendidikan Islam", dari pesantren diwakili oleh Direktur Pesantren Ust. KH. Solihin Adin, MM yang membahas tentang "Kebijakan Pesantren di Masa Pandemi" dan terakhir dari kalangan guru diwakili oleh Ust. Kamaludin Hot Pasi, Lc yang membahas tentang "Perubahan Pesantren Dalam Sejarah dan Pemikiran".

Santri Kuat, Indonesia Sehat
    Slogan di atas adalah slogan yang digunakan pada hari santri kali ini. Tentunya ini sesuai dengan kondisi dunia internasional yang sedang menghadapi pandemi Covid-19. Istilah santri sangat erat kaitannya dengan siswa yang belajar di lembaga pendidikan yang disebut dengan pesantren. Pada masa pandemi ini, hanya pesantren yang diizinkan untuk mengikuti program KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) tatap muka. Bukan tidak mengindahkan apa yang dianjurkan oleh pemerintah, tapi sedikit kemungkinan pesantren bisa melakukan kegiatan KBM dengan proses daring. Alasan yang pertama adalah murid-murid yang belajar di pesantren bukan berasal dari satu kota tertentu saja, ada yang berasal dari luar daerah bahkan pelosok daerah yang susah untuk mengakses internet. Kedua, pelajaran yang diajarkan di pesantren bukan pelajaran umum saja, atau dengan kata lain pelajaran yang disampaikan dengan bahasa Indonesia atau Inggris, tapi juga ada pelajaran bahasa Arab, seperti membaca kitab, mahfuzot, tafsir, nahwu dan lainnya yang tidak bisa dihandle oleh orang tua, seperti pelajaran daring yang dilakukan oleh sekolah non-pesantren. 

    Maka dari itu, pesantren tidak bisa melakukan KBM melalui daring. Untuk itu, maka pesantren memperbaiki sistem dalam pelaksanaan sehari-hari. Ust. KH. Solihin Adin, MM menyatakan bahwa pesantren merubah setiap sudut fasilitasnya dengan protokol kesehatan, seperti dibangunnya tempat cuci tangan dan penyediaan sabun di tempat-tempat strategis khususnya di depan asrama. Kebijakan yang lain adalah diwajibkannya penggunaan masker, guru yang tinggal di luar asrama harus cuci tangan sebelum masuk di depan gerbang, sementara ini orang tua hanya boleh menitipkan barang saja di pos satpam dengan kata lain tidak dibukanya jam berkunjung selama pandemi dan berbagai kebijakan lain yang disesuaikan dengan keadaan pandemi. Maka, yang diharapkan adalah kerjasama yang baik seluruh pihak, orang tua, guru-guru, santri, karyawan atau siapapun yang bersinggungan dengan pesantren. Kepada seluruhnya terkhusus orang tua untuk bisa mendo'akan guru-guru dan anaknya agar dapat beraktivitas dengan baik dan pastinya sehat. Kita sudah berusaha dan yang terakhir adalah berdo'a kepada Allah swt semoga kita semua dilindungiNya.

    Pada kesempatan dialog saat itu juga dikatakan bahwa dalam sejarahnya santri juga memiliki andil dalam kemerdekaan Indonesia. Dan saat ini santri melalui pesantren juga berkontribusi dalam mencerdaskan anak bangsa melalui kurikulum yang dimilikinya. Melalui pemaparan ust. Kamal, pesantren terus bermetamorfosa dari tradisional, semi modern hingga modern. Sehingga, saat ini pesantren menjadi salah satu lembaga pendidikan yang bisa diandalkan. Pastinya dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai keIslaman yang menjadi asas pendirian pesantren.

    KH. DR. Rasyidin Bina berujar, bahwa setiap elemen dari huruf yang membentuk kata santri, masing-masing memiliki makna yaitu; S untuk Survive Anywhere, A untuk Agent of Change, N untuk Nasionalisme, T untuk Time Update, R untuk Religius Rasional, dan I untuk Intelektual Influence. Dari setiap pemaknaan tersebut penulis menyimpulkan bahwa pesantren sedang dan akan terus mempersiapkan dirinya sebagai lembaga dan santrinya sebagai seorang muslim yang kokoh, intelektual, pastinya juga taat. Bahwa pesantren dengan sistem yang dimilikinya merupakan benteng pertahanan yang kuat untuk juga andil dalam perkembangan peradaban, khususnya peradaban Islam.

    Dan terakhir saya memohon doa kepada seluruh pembaca, untuk membacakan doa kepada pesantren di mana saya mengajar khususnya, dan semua lembaga pendidikan Islam pada umumnya. Untuk dapat tetap tegar dalam kondisi apapun. Al-Faatihah.

Share:

Covid-nya Dari China, Barang Dagangannya Jangan Dong ...

Kalau sudah bicara Corona atau Covid-19 (Corona Virus Diseas 2019) pasti seru pembahasannya. Di Indonesia virus ini seperti lagunya Utopia "Antara Ada dan Tiada". Ada, karena orang yang meninggal disebabkan terjangkit virus ini sangat banyak. Bahkan virus ini masuk ke dalam istilah pandemi, yang artinya jangkauan wabahnya mencakup seluruh dunia. Tiada, terkhusus di Indonesia, virus yang cara memutus rantai penyebarannya ini harus cuci tangan, memakai maker dan social distancing hanya segelintir orang yang menerapkannya. Protokol kesehatan seperti tidak diindahkan. 

Bagaimanapun Covid-19 yang antara ada dan tiada ini, merubah pola kehidupan masyarakat tentunya. Peran digital dalam kehidupan sehari-hari semakin hari semakin meningkat. Sekolah dan kampus masih dianjurkan melalui jarak jauh hingga akhir tahun ini. Kantor menggunakan sistem shift dengan melakukan WFH (Work From Home) untuk mengurangi jumlah pegawai yang masuk. Supermarket menawarkan delivery order until mengurangi datangnya pengunjung. Bahkan kebutuhan pokok saja, seperti sayur dan ikan sudan bisa dibeli secara daring. Dan yang beli parah adalah PHK yang banyak terjadi, karena para perusahaan harus memangkas biaya produksi yang tidak terpenuhi.

Ada hal yang menarik karena perubahan pola kehidupan ini. Saat ini perkembangan bisnis online sangat pesat karena perubahan pola tersebut. Tanpa harus keluar rumah, kini rumah tangga sudah bisa menghasilkan pendapatan tambahan. Baik karena memproduksi sendiri apa yang akan dijual maupun menjadi perpanjangan tangan dari supplier yang sudah ada. Rumah tangga yang memproduksi sendiri perlahan bisa membuka lapangan pekerjaan bagi di sekitarnya. Sedangkan rumah tangga yang menjadi reseller dapat menambah penghasilan dalam keluarganya. Namun, yang membuat sedih adalah tak jarang bahkan banyak barang-barang yang dijual berasal dari negara yang terdikteksi virus Covid ini pertama kali. China. Sudah cukup virusnya saja, barangnya jangan lagi. 

Betul memang, harga yang ditawarkan bersaing. Tapi bagaimana dengan nasib pedangang dalam negeri? Lalu, apa hubungannya? Jelas ada hubungannya. Mari belajar dari Korea Selatan, saat ini mereka terkenal dengan produksi jasa layanan bedah plastik dan dibarengi dengan produksi barang yaitu kosmetik. Bagaimana cara pergerakan masif mereka, tanpa kita sadari dengan menonton drama korea, kita diinformasikan tentang produk yang dipakai si artis dan tak jarang mereka memberitakan metamorfosa wajah artis sebelum dan sesudah menjadi artis. Sangat halus mereka menjejali kita dengan informasi-informasi demikian. 

Tidak hanya korea selatan, Malaysia sangat gencar dalam memproduksi bidang jasa yakni jasa layangan keuangan syariah, mereka sangat terkenal dengan hasil-hasil riset yang berisu ekonomi Islam. Bahkan Malaysia, melalui IHAB (Internasional Halal Authority Board) menjadi salah satu tempat dunia membuat sertifikat halal bagi produk mereka.

Sulit memang, tapi jika bersatu apa yang tidak mungkin. Mari bantu pedagang dalam negeri dengan menjadi perpanjangan tangan dalam mendistribusikan barang mereka. Jika bisa memajukan negara sendiri, mengapa harus memajukan negara orang lain. Kita hidup di Indonesia, kita warga Indonesia, jika Indonesia dijajah maka sebenarnya yang terjajah adalah kita. 

Mari kembali ke produk dalam negeri. Aku, Kamu, Kita Bersama-sama.

NB: Tulisan ini saya persembahkan untuk teman saya Mawaddah Irham, karena kekhawatirannya tulisan ini muncul. Mudah-mudahan bisa dikembangkan lagi dan bisa sedikit mengedukasi.
Share:

Agar Bisa Berumur Panjang, Membaca dan Menulislah.

 Agar bisa berumur panjang, maka membaca dan menulislah. 

Inilah pesan lain yang ku tangkap usai membaca buku karangan Radinal Mukhtar Harahap yang berjudul "Literasi Santri". Secara pribadi mungkin orang berpikir, aku berlebihan, tapi memang begitulah kenyataannya. Di lembar-lembar awal buku, aku terharu karena malu. Ini buku ke dua setelah berbulan-bulan lamanya aku tidak pernah menghabiskan buku yang ku baca. Mungkin terlihat sederhana, tapi tidak dengan isinya. Bagiku sebagai penulis pemula, buku ini sangat membakar semangat untuk bisa berbagi dari cara yang aku bisa yaitu ilmu. Mari kita berjalan-jalan ke dunia baca-tulis yang ternyata sangat menyenangkan.

Buku ini dibuka dengan wahyu pertama yang disampaikan oleh Malaikat Jibril ke Nabi Muhammad SAW yaitu Iqra'. Bacalah. Dalam literasi bahasa Arab, Iqra' adalah kalimat perintah, yang artinya ada penekanan di sana. Makna yang tersirat adalah membaca adalah sebuah keharusan. Seperti pintu doraemon, maka ketika membaca kamu akan masuk ke dunia yang kamu inginkan. Membaca akan membangun sebuah peradaban. Maka tak heran, peradaban yang pertama kali terbangun adalah peradaban yang tercipta oleh umat Islam. Karena umat Islam dari awal kemunculannya di awali dengan kata perintah, BACALAH!

Mengapa susah menulis? 
Ya benar, karena tidak dibarengi dengan membaca. Di dalam buku ini, kita diingatkan juga agar tidak menjadi penulis yang menuliskan karyanya dengan asal jadi. Dengan kata lain jangan menyesatkan. 

Juga, setelah membaca jangan lupa untuk dituliskan, agar apa yang kamu tahu, tidak berhenti di kamu seorang diri. Begitu mudahnya mencari amal di tengah fitnah akhir zaman yang sangat menyeramkan ini bukan?. Membaca dan menulis atau menulis dan membaca adalah ibarat kembar siam yang tidak bisa dipisahkan. 

Ada kalimat yang saya garis bawahi dalam buku ini yang lagi-lagi membuat saya malu. Pernyataan H. Abdul Somad, Lc, MA yang beliau tuliskan pada sampul buku Warisan Intelektual Ulama Nusantara yaitu "Buku Warisan Intelektual Ulama Nusantara ini menyadarkan kita bahwa ternyata nenek moyang kita bukan copy-paste, tetapi pemikir, penulis, pejuang dan berdinamika. Kita malu menjadi generasi yang pasif. Buku ini membangkitkan spirit sekaligus cambuk kreativitas." Yang tebersit di benak saya adalah selama ini, waktuku sudah dihabiskan untuk apa saja? Bagaimana dengan kamu?

Jihad. Bahwa menulis dan membaca adalah jihadnya masa kini. Bahwa menulis adalah bentuk dari pembuktian diri. Bahwa menulis tidak harus yang berat-berat, asal tulisan itu memiliki manfaat bagi pembaca maka tulisan itu sudah sampai pada tujuannya. Mari menulis, karena ketika menulis kita pasti melewati proses membaca. Sekali dayung satu dua pulau terlampaui, untung bukan?.
Maka mulailah dari sekarang, Jihad saat ini tidak mesti ke medan perangkan?, maka untuk hal-hal berikut apa kamu-pun tidak sanggup untuk melewatinya?

"Apakah ada jihad yang menunggu waktu luang?", "Menanti fasilitas terpenuhi?", "Mengharap pembimbing penuh dari huruf pertama hingga huruf terakhir?"

Bagaimana? Kamu berjiwa muda? kamu pasif atau aktif?

Saya pakai istilah berjiwa muda, karena sesungguhnya tidak ada kata tua atau terlambat dalam memulai apapun, belajar apapun. LONG LIFE EDUCATION. Ketika kita berhenti, maka artinya kita mati. Menurut saya mati secara makna lebih menyakitkan daripada mati secara jasad. Mati secara makna, kamu hidup tapi seperti orang mati. Astagfirullahal'azim.

Pada buku ini, kita akan disuguhkan banyak sekali karya dari orang-orang yang mengenyam pendidikan di pesantren, yang siswanya disebut dengan istilah SANTRI. 

Kamu santri? Membacalah!
Kamu santri? Menulislah!
Kamu santri? Berkaryalah!

Ingat! Peradaban berkembang berasal dari umat Muslim.
Dengan menulis walau jasadmu telah mati, tapi jiwamu tak akan pernah mati. 
Jiwamu, namamu dan tulisanmu masih terus bersama dengan para pembaca dan penikmat karyamu. 


Terima kasih Ust. Radinal M. Harahap. Semoga terus lahir karya-karya selanjutnya.
Dan juga dengan saya ..... Aamiin.
Bismillahirrahmanirrahim.


Share:

Al-Baqarah Dan Kantong Ajaibku

Pada empat halaman awal, tak terlalu sulit untuk menghafal surat ini. Hal ini dikarenakan ayat-ayatnya masih familiar. Tantangan dimulai di halaman-halaman selanjutnya. Tapi, ntah karunia apa yang dikasih Tuhan kepadaku, walau tertatih-tatih akhirnya sampai juga dipenghujung juz 1. Teman, sebelum aku mulai menghafal, di halaman depan Quran hafalan yang kupunya tertulis beberapa syarat, diantaranya:
1.     Niat karena Allah
2.     Baca ayat Alquran berulang kali kemudian tutup dengan kertas pembatasnya
3.     Dalam Alquran hafalan di sudut luar halaman ada penggalan ayat untuk memudahkan kita memulai menghafal setiap ayat.
4.     Ulangi dengan melihat sudut ayat, lalu tutup kembali dengan kertas pembatas, dan begitu seterusnya.
Walaupun awal mula aku menghafal adalah sebuah tantangan, tapi setiap kali aku mulai menghafal dan mengulangnya, setiap kali itu juga aku selalu memperbaharui niat. Mungkin ini yang membuat aku tidak kesulitan untuk menghafal dan lagi ini adalah kitab suci, aku yakin Allah memberikan banyak bantuan kepadaku.

I Love Albaqarah So Much
Dalam perjalanan menghafal, aku seperti berbicara dengan Tuhan. Sepertinya setiap kali membaca ayat yang berulang, Allah seperti bercerita tentang sesuatu yang ingin Allah beritahu kepadaku. Nyaman sekali. Surat ini jika aku umpakan seperti bab pendahuluan jika kita menulis sebuah karya ilmiah. Di awal kita disuguhkan dengan jangan ragu dengan apa yang dituliskan dalam Alquran. Selanjutnya kita akan mendapatkan berbagai cerita di zaman nabi yang bisa dijadikan hikmah untuk kehidupan saat ini. Dan di dalam surat ini juga Allah mengulang-ngulang tentang bahwa Allah sangat kuasa dalam memberikan hidayah dan rezeki. Bahkan Allah juga mengatakan bahwa Dia yang maha pemberi rahmat kepada ummatNya. Nyaman dan merasa sangat terpukul dalam satu waktu. 

Hal lain yang membuatku sangat cinta dengan surat ini adalah bahwa banyak landasan ekonomi Islam tertulis di surat ini. Kewajiban membayar zakat, infak, bagaimana cara bermu’amalah, dan bagaimana cara pencatatan keuangan. 
Selain itu ada banyak sekali doa di dalam surat yang paling panjang dari surat-surat yang ada di dalam Alquran ini. Dan pada akhirnya, aku penasaran untuk bisa menghafal surat ini sepenuhnya sampai akhir tidak hanya terbatas pada juz satu dan dua saja. 

Mudah-mudahan ada banyak pahala yang mengalir bagi si pemberi ide, si penghafal, si pendengar, dan pastinya untuk keluargaku yang sudah menghadap Allah jauh sebelum aku terkhusus orang tuaku. Rindu Ayah dan Ibu.

Kantong Ajaibku
Mungkin teman-teman bertanya, apa korelasi antara surat Albaqarah dan kantong ajaib ini. Di dalam kantong ajaib ini ada peralatan pendukung untuk menemaniku menghafal Alqur’an yang terdiri dari sajadah, mukenah, dan Alquran hafalan.









Tips
1.     Setiap juz terdiri dari antara 9-10 lembar, yang setiap 1 lembar terdiri dari 2 halaman.
2.     Luangkan waktu satu jam atau dua jam setiap hari untup menghafal setiap lembar.
3.     Pada hari kesebelas coba ulangi hafalan dari lembar pertama halaman pertama hingga lembar kesepuluh halaman keduapuluh.
4.     Hari-hari selanjutnya terus ulangi sampai kita hafal benar
5.     Dan jangan lupa untuk membaca tafsir ayatnya biar kita lebih memahami apa yang telah kita lafalkan dan semakin mengertilah kita kepada maksud dari ayat Alqur’an tersebut

Jika satu bulan 1 juz, Insya Allah jika umur panjang dalam waktu 2,5 tahun kita sudah bisa menghafal 30 juz. Begitulah caraku menghafalnya selain karena memang Alhamdulillah aku salah satu alumni pesantren yang memang berbasis bahasa arab. Tapi jangan berkecil hati jika kamu belum belajar bahasa Arab. Aku yakin Allah akan memudahkan semua perbuatan baik yang dilakukan hambanya.


Selamat mencoba.
Share:

Antara Ibu Bekerja dan Ibu Tidak Bekerja

Aku seorang ibu bekerja. Bukan hanya itu, aku memang suka beraktivitas di luar rumah dengan segala keribetannya. Mengerjakan urusan kantor lebih menyenangkan dari mengerjakan kegiatan rumah. Mengerjakan urusan organisasi lebih menyenangkan daripada hanya sekedar memasak. Ya, begitulah yang aku rasakan. Ini bukan tanpa sebab, karena suatu alasan sejak kuliah aku lebih suka berada di luar rumah. Rumah benar-benar hanya tempat istirahat yang besok paginya kembali beraktivitas, untuk mengerjakan tugas kampus, organisasi, atau hanya sekedar jalan-jalan ke toko buku. 

Jujur saja, aku bukan orang yang betah lama-lama bermain dengan anak-anak. TAPI, bukan berarti aku terganggu dengan kehadiran anak kecil jika berada disekitarku. Melihat lucunya tingkah mereka, dengan muka polos yang tanpa dosa, dan mendengarkan kecelatan berbicara itu sesuatu yang menyenangkan. Sampai pada akhirnya, aku harus berhadapan dengan anakku sendiri, wow (tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata). 

Seiring berjalannya waktu, karena aku senang bekerja dan sekaligus punya anak, aku harus pintar-pintar membagi waktu dengan mereka. Rasa tanggung jawab untuk membesarkan dan memberikan mereka kehidupan yang baik itu ada di dalam diri. Ini sudah masalah amanah, lebih besar dari hanya sekedar rasa tanggung jawab. Siapa yang berani bermain-bermain dengan kepunyaan Allah ini. Walau lelah bekerja, tapi hak mereka untuk mendapat rasa kasih dan sayang yang dititipkan Allah melalui orang tuanya. 

Khususnya aku, aku berbenturan dengan kesenanganku bekerja. Dipertanyakan akan hal pengurusan anak bahasa halus dari diremehkan, sudah biasa. Pernyataan seperti "ih, jadinya anaknya makan apa", "ih, kok percaya ya anaknya dititipin gitu ke orang", "jadi kalau makan beli, gk masak", "nanti anaknya lebih dekat dengan orang lain loh" dan lain sebagainya. Sukur punya hati batu. Dalam hati "emang dirimu siapa berani seenaknya menilai", "emang dirimu tahu apa yang aku kerjakan di rumah", dan sebagainya.

Teman, bukan karena aku ibu bekerja bahkan gila kerja aku berkata ini. Ayolah, tidak ada bedanya ibu bekerja dan ibu tidak bekerja. Dua-duanya ibu. Please Open Your Mind! Naluri sudah diciptakan Allah kepada perempuan yang dititipi anak. Hewan saja begitu, konon kita ini manusia. Jangan mengomentari hal-hal yang kamu sendiri tidak memiliki data yang cukup tentang itu. Masing-masing ibu memiliki caranya sendiri-sendiri bagaimana ia merawat anaknya. Ibu bekerja dan tidak bekerja itu sama tinggi derajatnya, sama-sama merasakan lelah, sama-sama merasakan stres, dan pastinya juga sama-sama merasakan bahagia. Ibu bekerja dan tidak bekerja itu sama-sama disebut ibu. Bahkan seseorang yang mengadopsi anakpun disebut ibu, konon lagi kita yang memang dikarunia anak dari rahim kita sendiri.

Jangan saling menjatuhkan. Ibu bekerja baik, Ibu tidak bekerja juga baik. Sama baiknya. Saling supportlah. Jika ada yang salah, dinasehati dengan cara yang benar, bukan menjadi bahan gosip. Kita terlihat baik di mata manusia, karena Allah menutup aib kita dari semua orang. 

Ibu bekerja dan Ibu tidak bekerja adalah ibu bagi anak-anaknya.
Share:

Apa Yang Sebenarnya Terjadi?

Saya secara pribadi bertanya-tanya atas kejadian yang terjadi pada masyarakat internasional saat ini. Mungkin bukan saya saja, ada banyak orang yang bertanya-tanya akan hal ini. Dan salah satu yang membuat sulit adalah informasi yang tak akurat dari berbagai media massa. Saya lupa, kapan terakhir kali saya benar-benar duduk serius di depan tv untuk menyimak berita yang disajikan. Karena menurut saya berita yang ditampilkan harus diwaspadai kebenarannya. Sedangkan acara lain, lagi-lagi menurut saya kurang bisa dinikmati bahkan sekedar hanya mencari hiburan. Hingga saya pernah membaca pernyataan "yang bisa dipercayai di tv hanya azan magrib", dalam hati segitunya ya?

Pada akhirnya, banyak orang yang beralih ke media sosial lain untuk mendapatkan informasi, itupun tetap harus dipilih-pilih juga. Tapi setidaknya, ada berbagai pilihan informasi yang bisa diserap. 

Sedikit kembali ke masa lalu, teman-teman masih ingat ketika di akhir masa jabatan periode I presiden kita, DPR mengesahkan beberapa Rancangan Undang-Undang yang membuat mahasiswa turun ke jalan. Secara pribadi saya menarik kesimpulan bahwa mahasiswa seperti tidak memiliki taring atau kuku saat ini. Ya benar, mereka berhasil ke DPR (Dewan Perwakilan Rakyat), dan diundang ke berbagai acara tv bergengsi yang bertema tanya jawab untuk bisa memberikan pendapat. Tapi, berita ini hanya menjadi trending sebentar saja dan .... senyap. Apa masyarakat lupa tentang apa yang diperjuangkan ?

Nah sekarang, berita yang sedang naik daun adalah tentang COVID-19 (Corona Virus Disease-2019). Ada banyak hal yang bisa disoroti diantaranya tentang sejauh mana kita harus mengantisipasi perkembangan virusnya, ada berapa jumlah korban yang meninggal dan berhasil sembuh, bagaimana cara memutus mata rantainya, dan yang tak kalah pentingnya adalah dampak dari pandemi ini terhadap kehidupan masyarakat khususnya kehidupan ekonomi.

Pemerintah kita kurang tegas dalam penanganannya menurut saya. Sehingga, masyarakat pun menjadi kurang waspada dalam menanggapinya. Hal ini terlihat dari penerapan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang tidak merata, keputusan yang plin plan, disipilin PSBB yang dipertanyakan. Contohnya, ada perkumpulan masyarakat berskala besar ketika penutupan salah satu otlet makanan cepat saji di Jakarta, ada penumpukan calon penumpang di bandara Soekarno-Hatta, dan mungkin salah satu pernyataan yang menjadi trending adalah bahwa mudik berbeda artinya dengan pulang kampung.

Indonesiaku.. 

Bagaimana dengan kalian teman?
Awalnya saya juga termasuk orang yang santai menanggapi berita ini, "asik nih liburan". TAPI, itu hanya ampuh beberapa hari saja sejak kami juga harus mengikuti aturan pemerintah untuk bekerja dari rumah. Sejak berada di rumah, saya jadi aktif mengikuti salah satu pengamat ekonomi politik yang saya suka dan belakangan mengikuti salah satu podcast dan aktif mencari chanel yang memuat berita-berita ini. Hasilnya? wow .. dalam hati saya bergumam "Seserius itu?".

Di salah satu webinar (Seminar melalui web) yang saya ikuti, dan dibeberapa berita yang coba saya kumpulkan bahwa corona ini belum bisa diprediksi kapan berakhirnya. Jika pun berakhir, kehidupan perekonomian bisa mulai berangsur pulih setelah dua tahun. Dan baru-baru ini seperti Korea Selatan yang baru saja melonggarkan lock down pun kembali menutup tempat-tempat yang memungkinkan terjadi penumpukan massa, karena ada serangan virus corona gelombang dua yang berbeda gejala dari virus corona yang sebelumnya.

Bagaimana? Luar biasa meresahkan kan?
Belum lagi berita tentang imbas dari kehidupan yang disebut "New Normal" ini dan berita-berita lainnya yang berkaitan dengan dampak ekonomi, politik karena virus ini, ya kita sebutlah konspirasi. Karena saya tidak terlalu banyak informasi tentang hal ini maka tidak terlalu berani membahasnya, takut meberi berita yang salah.

Tapi, tulisa ini bukan untuk menakut-nakuti, hanya mencoba mengajak teman-teman berdiskusi atas apa yang sebenarnya terjadi dan yang lebih penting bagaimana menghadapinya?.
Share:

Search Here

Recent Posts

Categories

Most Popular

Total Pageviews

Yang di Unggulkan

Dialog Kepesantrenan: "Arah Pesantren dalam Masa Pandemi"

          Bertepatan dengan hari santri pada tanggal 22 Oktober 2020, Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Ar-Raudhatul Hasanah, mengadakan d...

Bee

Bee
Bee

Pages