Islamic Economic Activist . A Beginner Writer

  • PERJALANAN

    Walau panjang, setiap perjalanan pasti menemukan tempat persinggahan yang abadi.

  • AIR

    Air sumber kehidupan, ku abadikan sumber kehidupanku di sini.

  • MESJID BAITURRAHMAN

    Sampai di sini itu perlu keyakinan, karena YAKIN maka sampai.

  • MOTIVASI

    Hal yang paling sulit itu adalah memotivasi diri sendiri, tapi jangan menyerah! Jika menyerah artinya kamu kalah.

  • SAMPAI KE PUNCAK

    Yang namanya menuju puncak pasti sulit, kadang harus melewati turunan juga tak bisa mengelakkan tanjakan. Tapi teruslah berjalan hingga kau sampai kepuncak. Lalu bebaskanlah dirimu.

  • SANG PEMBELAJAR

    Tidak ada kata tua dalam belajar, hidup yang dijalani semuanya pembelajaran, disetiap pembelajaran selalu ada ujian, untuk mengevaluasi diri, sejauh apa pembelajaran itu dipahami dengan baik, maka jangan bosan untuk selalu belajar.

  • KADERISASI

    Agar ilmumu menjadi amal jariyah dan berkembang, sebarkan dan buatlah kaderisasi.

Al-Baqarah Dan Kantong Ajaibku

Pada empat halaman awal, tak terlalu sulit untuk menghafal surat ini. Hal ini dikarenakan ayat-ayatnya masih familiar. Tantangan dimulai di halaman-halaman selanjutnya. Tapi, ntah karunia apa yang dikasih Tuhan kepadaku, walau tertatih-tatih akhirnya sampai juga dipenghujung juz 1. Teman, sebelum aku mulai menghafal, di halaman depan Quran hafalan yang kupunya tertulis beberapa syarat, diantaranya:
1.     Niat karena Allah
2.     Baca ayat Alquran berulang kali kemudian tutup dengan kertas pembatasnya
3.     Dalam Alquran hafalan di sudut luar halaman ada penggalan ayat untuk memudahkan kita memulai menghafal setiap ayat.
4.     Ulangi dengan melihat sudut ayat, lalu tutup kembali dengan kertas pembatas, dan begitu seterusnya.
Walaupun awal mula aku menghafal adalah sebuah tantangan, tapi setiap kali aku mulai menghafal dan mengulangnya, setiap kali itu juga aku selalu memperbaharui niat. Mungkin ini yang membuat aku tidak kesulitan untuk menghafal dan lagi ini adalah kitab suci, aku yakin Allah memberikan banyak bantuan kepadaku.

I Love Albaqarah So Much
Dalam perjalanan menghafal, aku seperti berbicara dengan Tuhan. Sepertinya setiap kali membaca ayat yang berulang, Allah seperti bercerita tentang sesuatu yang ingin Allah beritahu kepadaku. Nyaman sekali. Surat ini jika aku umpakan seperti bab pendahuluan jika kita menulis sebuah karya ilmiah. Di awal kita disuguhkan dengan jangan ragu dengan apa yang dituliskan dalam Alquran. Selanjutnya kita akan mendapatkan berbagai cerita di zaman nabi yang bisa dijadikan hikmah untuk kehidupan saat ini. Dan di dalam surat ini juga Allah mengulang-ngulang tentang bahwa Allah sangat kuasa dalam memberikan hidayah dan rezeki. Bahkan Allah juga mengatakan bahwa Dia yang maha pemberi rahmat kepada ummatNya. Nyaman dan merasa sangat terpukul dalam satu waktu. 

Hal lain yang membuatku sangat cinta dengan surat ini adalah bahwa banyak landasan ekonomi Islam tertulis di surat ini. Kewajiban membayar zakat, infak, bagaimana cara bermu’amalah, dan bagaimana cara pencatatan keuangan. 
Selain itu ada banyak sekali doa di dalam surat yang paling panjang dari surat-surat yang ada di dalam Alquran ini. Dan pada akhirnya, aku penasaran untuk bisa menghafal surat ini sepenuhnya sampai akhir tidak hanya terbatas pada juz satu dan dua saja. 

Mudah-mudahan ada banyak pahala yang mengalir bagi si pemberi ide, si penghafal, si pendengar, dan pastinya untuk keluargaku yang sudah menghadap Allah jauh sebelum aku terkhusus orang tuaku. Rindu Ayah dan Ibu.

Kantong Ajaibku
Mungkin teman-teman bertanya, apa korelasi antara surat Albaqarah dan kantong ajaib ini. Di dalam kantong ajaib ini ada peralatan pendukung untuk menemaniku menghafal Alqur’an yang terdiri dari sajadah, mukenah, dan Alquran hafalan.









Tips
1.     Setiap juz terdiri dari antara 9-10 lembar, yang setiap 1 lembar terdiri dari 2 halaman.
2.     Luangkan waktu satu jam atau dua jam setiap hari untup menghafal setiap lembar.
3.     Pada hari kesebelas coba ulangi hafalan dari lembar pertama halaman pertama hingga lembar kesepuluh halaman keduapuluh.
4.     Hari-hari selanjutnya terus ulangi sampai kita hafal benar
5.     Dan jangan lupa untuk membaca tafsir ayatnya biar kita lebih memahami apa yang telah kita lafalkan dan semakin mengertilah kita kepada maksud dari ayat Alqur’an tersebut

Jika satu bulan 1 juz, Insya Allah jika umur panjang dalam waktu 2,5 tahun kita sudah bisa menghafal 30 juz. Begitulah caraku menghafalnya selain karena memang Alhamdulillah aku salah satu alumni pesantren yang memang berbasis bahasa arab. Tapi jangan berkecil hati jika kamu belum belajar bahasa Arab. Aku yakin Allah akan memudahkan semua perbuatan baik yang dilakukan hambanya.


Selamat mencoba.
Share:

Antara Ibu Bekerja dan Ibu Tidak Bekerja

Aku seorang ibu bekerja. Bukan hanya itu, aku memang suka beraktivitas di luar rumah dengan segala keribetannya. Mengerjakan urusan kantor lebih menyenangkan dari mengerjakan kegiatan rumah. Mengerjakan urusan organisasi lebih menyenangkan daripada hanya sekedar memasak. Ya, begitulah yang aku rasakan. Ini bukan tanpa sebab, karena suatu alasan sejak kuliah aku lebih suka berada di luar rumah. Rumah benar-benar hanya tempat istirahat yang besok paginya kembali beraktivitas, untuk mengerjakan tugas kampus, organisasi, atau hanya sekedar jalan-jalan ke toko buku. 

Jujur saja, aku bukan orang yang betah lama-lama bermain dengan anak-anak. TAPI, bukan berarti aku terganggu dengan kehadiran anak kecil jika berada disekitarku. Melihat lucunya tingkah mereka, dengan muka polos yang tanpa dosa, dan mendengarkan kecelatan berbicara itu sesuatu yang menyenangkan. Sampai pada akhirnya, aku harus berhadapan dengan anakku sendiri, wow (tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata). 

Seiring berjalannya waktu, karena aku senang bekerja dan sekaligus punya anak, aku harus pintar-pintar membagi waktu dengan mereka. Rasa tanggung jawab untuk membesarkan dan memberikan mereka kehidupan yang baik itu ada di dalam diri. Ini sudah masalah amanah, lebih besar dari hanya sekedar rasa tanggung jawab. Siapa yang berani bermain-bermain dengan kepunyaan Allah ini. Walau lelah bekerja, tapi hak mereka untuk mendapat rasa kasih dan sayang yang dititipkan Allah melalui orang tuanya. 

Khususnya aku, aku berbenturan dengan kesenanganku bekerja. Dipertanyakan akan hal pengurusan anak bahasa halus dari diremehkan, sudah biasa. Pernyataan seperti "ih, jadinya anaknya makan apa", "ih, kok percaya ya anaknya dititipin gitu ke orang", "jadi kalau makan beli, gk masak", "nanti anaknya lebih dekat dengan orang lain loh" dan lain sebagainya. Sukur punya hati batu. Dalam hati "emang dirimu siapa berani seenaknya menilai", "emang dirimu tahu apa yang aku kerjakan di rumah", dan sebagainya.

Teman, bukan karena aku ibu bekerja bahkan gila kerja aku berkata ini. Ayolah, tidak ada bedanya ibu bekerja dan ibu tidak bekerja. Dua-duanya ibu. Please Open Your Mind! Naluri sudah diciptakan Allah kepada perempuan yang dititipi anak. Hewan saja begitu, konon kita ini manusia. Jangan mengomentari hal-hal yang kamu sendiri tidak memiliki data yang cukup tentang itu. Masing-masing ibu memiliki caranya sendiri-sendiri bagaimana ia merawat anaknya. Ibu bekerja dan tidak bekerja itu sama tinggi derajatnya, sama-sama merasakan lelah, sama-sama merasakan stres, dan pastinya juga sama-sama merasakan bahagia. Ibu bekerja dan tidak bekerja itu sama-sama disebut ibu. Bahkan seseorang yang mengadopsi anakpun disebut ibu, konon lagi kita yang memang dikarunia anak dari rahim kita sendiri.

Jangan saling menjatuhkan. Ibu bekerja baik, Ibu tidak bekerja juga baik. Sama baiknya. Saling supportlah. Jika ada yang salah, dinasehati dengan cara yang benar, bukan menjadi bahan gosip. Kita terlihat baik di mata manusia, karena Allah menutup aib kita dari semua orang. 

Ibu bekerja dan Ibu tidak bekerja adalah ibu bagi anak-anaknya.
Share:

Apa Yang Sebenarnya Terjadi?

Saya secara pribadi bertanya-tanya atas kejadian yang terjadi pada masyarakat internasional saat ini. Mungkin bukan saya saja, ada banyak orang yang bertanya-tanya akan hal ini. Dan salah satu yang membuat sulit adalah informasi yang tak akurat dari berbagai media massa. Saya lupa, kapan terakhir kali saya benar-benar duduk serius di depan tv untuk menyimak berita yang disajikan. Karena menurut saya berita yang ditampilkan harus diwaspadai kebenarannya. Sedangkan acara lain, lagi-lagi menurut saya kurang bisa dinikmati bahkan sekedar hanya mencari hiburan. Hingga saya pernah membaca pernyataan "yang bisa dipercayai di tv hanya azan magrib", dalam hati segitunya ya?

Pada akhirnya, banyak orang yang beralih ke media sosial lain untuk mendapatkan informasi, itupun tetap harus dipilih-pilih juga. Tapi setidaknya, ada berbagai pilihan informasi yang bisa diserap. 

Sedikit kembali ke masa lalu, teman-teman masih ingat ketika di akhir masa jabatan periode I presiden kita, DPR mengesahkan beberapa Rancangan Undang-Undang yang membuat mahasiswa turun ke jalan. Secara pribadi saya menarik kesimpulan bahwa mahasiswa seperti tidak memiliki taring atau kuku saat ini. Ya benar, mereka berhasil ke DPR (Dewan Perwakilan Rakyat), dan diundang ke berbagai acara tv bergengsi yang bertema tanya jawab untuk bisa memberikan pendapat. Tapi, berita ini hanya menjadi trending sebentar saja dan .... senyap. Apa masyarakat lupa tentang apa yang diperjuangkan ?

Nah sekarang, berita yang sedang naik daun adalah tentang COVID-19 (Corona Virus Disease-2019). Ada banyak hal yang bisa disoroti diantaranya tentang sejauh mana kita harus mengantisipasi perkembangan virusnya, ada berapa jumlah korban yang meninggal dan berhasil sembuh, bagaimana cara memutus mata rantainya, dan yang tak kalah pentingnya adalah dampak dari pandemi ini terhadap kehidupan masyarakat khususnya kehidupan ekonomi.

Pemerintah kita kurang tegas dalam penanganannya menurut saya. Sehingga, masyarakat pun menjadi kurang waspada dalam menanggapinya. Hal ini terlihat dari penerapan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang tidak merata, keputusan yang plin plan, disipilin PSBB yang dipertanyakan. Contohnya, ada perkumpulan masyarakat berskala besar ketika penutupan salah satu otlet makanan cepat saji di Jakarta, ada penumpukan calon penumpang di bandara Soekarno-Hatta, dan mungkin salah satu pernyataan yang menjadi trending adalah bahwa mudik berbeda artinya dengan pulang kampung.

Indonesiaku.. 

Bagaimana dengan kalian teman?
Awalnya saya juga termasuk orang yang santai menanggapi berita ini, "asik nih liburan". TAPI, itu hanya ampuh beberapa hari saja sejak kami juga harus mengikuti aturan pemerintah untuk bekerja dari rumah. Sejak berada di rumah, saya jadi aktif mengikuti salah satu pengamat ekonomi politik yang saya suka dan belakangan mengikuti salah satu podcast dan aktif mencari chanel yang memuat berita-berita ini. Hasilnya? wow .. dalam hati saya bergumam "Seserius itu?".

Di salah satu webinar (Seminar melalui web) yang saya ikuti, dan dibeberapa berita yang coba saya kumpulkan bahwa corona ini belum bisa diprediksi kapan berakhirnya. Jika pun berakhir, kehidupan perekonomian bisa mulai berangsur pulih setelah dua tahun. Dan baru-baru ini seperti Korea Selatan yang baru saja melonggarkan lock down pun kembali menutup tempat-tempat yang memungkinkan terjadi penumpukan massa, karena ada serangan virus corona gelombang dua yang berbeda gejala dari virus corona yang sebelumnya.

Bagaimana? Luar biasa meresahkan kan?
Belum lagi berita tentang imbas dari kehidupan yang disebut "New Normal" ini dan berita-berita lainnya yang berkaitan dengan dampak ekonomi, politik karena virus ini, ya kita sebutlah konspirasi. Karena saya tidak terlalu banyak informasi tentang hal ini maka tidak terlalu berani membahasnya, takut meberi berita yang salah.

Tapi, tulisa ini bukan untuk menakut-nakuti, hanya mencoba mengajak teman-teman berdiskusi atas apa yang sebenarnya terjadi dan yang lebih penting bagaimana menghadapinya?.
Share:

It's A Life; Perubahan Sikap (1)

Lock down?
New normal?
Bagaimana keadaan kalian teman?

Kira-kira saya pribadi sudah merasakannya hampir 2 bulan kurang lebih. Minggu pertama masih biasa saja, malah cenderung senang. Tidak melakukan aktivitas yang padat seperti hari-hari sebelumnya. Tidak membicarakan pekerjaan, ya, hanya santai di rumah dan melakukan kegiatan yang  tidak pernah dilakukan secara rutin. Setelah sebulan, lumayan sedikit stres, jujur saja, saya bukan orang yang terlalu betah di rumah. Bukan masalah duduk diam di rumah, ternyata terlalu banyak istirahat juga tidak baik bagi tubuh dan otak tentunya. Ternyata melakukan kegiatan yang tidak bisa kita lakukan karena kesibukan hanya membutuhkan waktu sesekali saja, bukan saat seperti sekarang ini. Dan ..... ya, it's a new normal versi saya yang saya pahami.

New Normal
Bukan ingin menjelaskan new normal yang sering didengungkan oleh pemerintah belakangan ini, ini new normal tentang perubahan gaya hidup yaitu melakukan kegiatan tidak seperti biasanya. Saat ini semua kegiatan seperti belajar, bekerja, take a course, pelatihan dan sebagainya tetap bisa dilakukan walau tanpa keluar rumah. Intinya berusaha enjoy untuk melakukan perubahan tersebut. Bagaimana dengan kalian?

Youtube, ya, siapa yang tidak tahu youtube kan? Ini salah satu teman selama lock down ditetapkan oleh pemerintah, tepatnya membatasi diri keluar rumah. Sebelumnya saya bukan penggemar youtube. Teringat akan salah satu saran seorang teman untuk melihat salah satu chanel youtube yang kontennya berupa obrolan ringan antara dua orang atau lebih yang dikemas dalam bentuk podcast. Ya, di masa itu saya pribadi juga sedang melakukan new normal atas sebuah hal. Ada beberapa konten dari chanel tersebut yang membuat saya berpikir dan belajar, atas sebuah kehidupan yang saya lalui belakangan ini dan kejadian yang menimpa masyarakat internasional saat ini.

It's A Life
It's a life, menjadi salah satu slogan dalam hati untuk bertahan hidup. Kalimat ini terlontar pada salah satu isi obrolan di chanel tersebut. Saat itu mereka membicarakan tentang obat-obatan terlarang dan seks bebas. Obrolan ini terkesan ringan walau esensinya berat menurut saya. Bahwa setiap orang pasti melewati hal-hal yang tak terduga di dalam hidupnya. Sekarang bagaimana cara menyikapi permasalahan tersebut. Nah, di sini letak perbedaan antar manusia, perbedaan dalam menyikapi atas suatu masalah yang terjadi. Ada yang membutuhkan waktu cepat untuk bisa beradaptasi dan ada yang membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan mungkin tahunan. Maka, kita tidak bisa memaksakan kehendak kepada orang lain untuk bisa sesuai dengan maunya kita dalam pemecahan masalah. 

Ternyata bertanggung jawab atas sebuah kesalahan (kesalahan dalam sudut pandang agama atau norma dalam masyarakat) itu sulit, setidaknya itu menurut saya. It's take a long time but It's a life. Itu adalah konsekuensi dari perbuatan yang kamu lakukan. Berani berbuat berani bertanggung jawab adalah slogan yang mudah dikatakan tetapi sulit dilaksanakan. Tapi, kembali lagi ... it's a life.

Perubahan Sikap
Atas permintaanku aku sudah cukup. Atas permohonanku aku sudah cukup. Aku tak akan meminta lagi. Aku tak akan memohon lagi. Abaikan jika itu perlu untuk diabaikan. Jika tak cukup penting tinggalkan. Jika diacuhkan, pergi. Dan keputusanku sejak dulu lebih menggunakan logika dari rasa, ku pikir memang aku harus begitu.  Tak selamanya hidup dengan logika itu buruk sama seperti tak selamanya hidup dengan rasa itu baik. Realistis. Perbedaan bukan untuk dipermasalahkan. Karena manusia memang diciptakan demikian. Tapi memberikan pandangan boleh dilakukan. Just make it's simple, It's a life. Saat ini bagaimana aku, tergantung bagaimana sikap kalian terhadapku. Jika acuh maka aku akan melakukan yang sama. Tapi suatu saat, aku berharap sikap kalian tak akan mempengaruhi bagaimana sikapku terhadap kalian. Jika acuh aku tak akan balas acuh. It's a life.

Your future depens on what you do today not tomorrow.


Share:

Sepotong Kenangan Kepala Barbie

Tak kelihatan tua
Walau sudah beranjak dewasa 
Bercerita apa saja
Dari yang rahasia sampai yang terbuka

Tak akan terganti
Penyimpan keluh kesah hati
Hadirnya tak akan dirasakan lagi kini
Semua cerita telah dibawanya pergi

Teringat akan kepala barbie
Kaki yang bergetar
Lari yang tak karuan
Dasar aku, 
Tapi itu bukan karena benciku
Hanya keisengan antara kakak dan adik

Orang lain tak akan merasakan yang kami rasa
Memilikinya anugrah 
Anak yang istimewa 
Menjadi alarm bagi siapa saja yang singgah
Ikhlas atau tidak menerimanya

Rindu kamu sayang
Semoga kamu menggenggam erat tanganku nanti
Semoga kamu memanggil namaku nanti
Walau aku sering memberimu kepala barbie
Itu karena CINTAKU bukan karena benciku

Aderina Harahap
12 Ramadhan 1441 H
5 Mei 2020



Share:

Aku Bukan Siapa-Siapa Dan Tidak Memiliki Apa-Apa

Perjalanan hidup yang kita tidak tahu kapan berakhirnya
Akankah kita berakhir pada masa kekacauan tiba (red: kiamat)
Atau kita berakhir sebelum masa itu datang
Yang pasti kita hanya dituntut oleh Sang Pencipta untuk tak lengah

Masalah yang datang kepada setiap manusia berbeda-beda
Pastinya masalah yang datang kepada setiap manusia tersebut sesuai kadar dirinya

Sering kali aku terpaku pada kehidupan yang kujalani
Kisah bahagia? Aku lupa kapan terakhir kali aku merasakannya
Atau mungkin bahagia itu ada, tapi aku tak merasakannya
Tapi yang orang lain lihat, aku bahagia

Bagaimana dengan kamu?
Di mana letak salahnya anggapan seperti ini?

Untuk itu, saat ini aku memiliki jawaban sendiri
Atas perjalanan yang sudah kujalani

Aku bukan siapa-siapa
Aku tak memiliki apa-apa
Dua kalimat ini buatku merasa menjadi orang bebas
Dua kalimat ini membuatku untuk tak takut dijatuhkan, dicemooh, dihina atau yang lainnya karena aku bukan siapa-siapa
Dua kalimat itu membuatku untuk tak takut kehilangan karena aku tak memiliki apa-apa

Karena pada dasarnya semua sandangan adalah Allah
Semua kepemilikan adalah punya Allah
Insya Allah bahagia dalam hati itu akan datang
Semoga


5 Ramadhan 1441 H
Share:

Sungai Lumut

Catatan Perjalanan 

Cerah pagi ini 
Tapak kaki mengantarku ke daerah ini 
Daerah yang aku berpartri dalam hati hanya satu kali ini 

Tidak ada yang spesial memang 
Tidak ada gedung pencakar langit 
Tidak ada gedung-gedung modern 
Tidak ada mall 

Tapi .... 
Aku suka suasana tenangnya 
Yang membuat spesial adalah 
Pantai ya pantai 
Setidaknya bisa sedikit mengobati rindu atas tanah kecil yg pernah aku tempati 
Ada banyak sekali pantai di sana 

Ada banyak hal yang harus ditata di sini 
Terutama hati 
Memohon pada sang ilahi 
Bahwa aku harus bertransformasi 
Terus menjadi lebih baik lagi 
Aamiin 

Akhir maret
Share:

Hilang

Bagaimana hidupmu akhir-akhir ini ....
Semua yang membaca blog ini, aku berharap, bagaimanapun hidup kalian akhir-akhir ini kalian harus tetap tersenyum, bersyukur dan pasrah ...

Pernah kamu merasa dirimu hilang di suatu fase kehidupanmu?
Apa yang kamu rasa kala itu?
Bagaimana kamu melaluinya?

Ya .. mungkin masing-masing kita pernah merasakan hal itu
Dan masing-masing kita punya cara sendiri- sendiri untuk berdamai dengan keadaan itu

Pintaku ...
Bagaimanapun kamu melaluinya
Berhusnudzon lah kepada Allah ...
Seburuk apapun yang kamu rasa ...
Kamu masih pantas meminta ... meminta kepada Rabbmu
Terus saja ... jangan berhenti ... sampai kamu jumpa dengan dirimu yang baru
Bukan dirimu yang dulu
Yang baru .. yang lebih baik dan bahkan bertambah baik dari sebelumnya

Karena akupun sedang berusaha
Berusaha terus
Terus tanpa henti
Karena jika berhenti
Maka aku akan kehilangan diriku untuk kesekian kalinya

Share:

Belajar Ikhlas

Suatu sore kami bercengkrama di kantor. Salah satu teman dekatku yang sedikit tahu cerita tentang kehidupanku berkata “Kalau saja ada sedikit kesempatan, cerita hidupmu ingin kujadikan sebuah karya”. Ucapan ini juga pernah aku dengar dari temanku yang lain. Hanya teman yang dulu tak mengatakan judul. Temanku yang kali ini menyebutkan kalau karya itu akan dia beri titel “Belajar Ikhlas”.

Segitunya ya, terdetak dalam hati. Belajar Ikhlas. 
Dua kata yang sangat singkat dan padat tapi sulit dijalankan.
Tepat 15 tahun yang lalu, aku pernah “marah-marah” dengan Tuhan. Walaupun begitu dalam kesehariannya aku tetap menjalankan perintahNya. Tuhan mengambil seluruh keluargaku secara bersamaan. Saat itu, di saat yang bersamaan, aku kecewa dengan Ayah. Seminggu sebelum Ayah meninggal, Ayah bercerita dengan salah satu teman kantornya bahwa hidupnya tidak lama lagi. Beliau mengkhawatirkan anak ke-duanya harus tinggal di mana ketika beliau meninggal. Sedikit cerita, bahwa adek perempuanku ini beda dengan anak yang biasanya. Aku kecewa dengan Ayah karena Ayah tidak bercerita denganku apa yang beliau prediksi. Pikirku kala itu biar aku bisa bersiap, walaupun tak cukup kuat. Tapi, saat ini aku berfikir bahwa mungkin waktu itu Ayah tak ingin membuat anaknya bersedih. Hingga dalam perjalanannya aku menarik kesimpulan, tidak semua hal yang ingin kita pertanyakan harus ditanyakan, ada saatnya pertanyaannya itu disimpan saja dalam hati dahulu dan akan terjawab seiring berjalannya waktu.

Jika ditanya sekarang, bagaimana kondisi ragaku saat ini, Alhamdulillah aku sehat. Tapi jika ditanya tentang psikis, itu dia, aku tak terlalu tahu jawabannya. Menjalani hidup tanpa orang tua dengan harus mengambil keputusan di saat-saat yang genting, membuatku merasa tak membutuhkan orang lain. Dulu aku berkata dalam hati, “Aku mampu menjalaninya sendirian”. Hal ini tak sepenuhnya benar, karena tak mungkin ada manusia yang bisa benar-benar hidup sendiri. Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk sosial, maka semampu-mampunya dia menyelesaikan masalahnya sendiri, dia pasti bersentuhan dengan orang lain dalam penyelesaiannya itu. Aku tak pernah benar-benar memeriksa psikisku saat itu, hanya kata temanku yang psikolog, bahwa proses healing-ku terlalu cepat untuk ukuran orang yang ditinggal mendadak oleh keluarganya. hmmm…. ntahlah. Tidak ada masalah benar-benar selesai, bahkan setelah matipun kita masih harus bertanggung jawab dengan perbuatan kita di dunia, sampai akhirnya kita benar-benar beristirahat di Surga-Nya atau bekerja keras di Neraka-Nya.

Belum selesai proses healing-ku yang pertama, sekarang aku sedang melalui proses healing-ku yang kedua. Sebuah pengalaman hidup yang tak bisa ku tuliskan di sini. Akan tetapi ada obat yang sama yang harus diberikan, yaitu Ikhlas. 

Aku selalu bermasalah pada pikiran. Pikiran negatif terlalu kuat dalam diriku untuk beberapa hal. Aku bukan beralasan, tapi memang itu yang terjadi, ada banyak hal dalam hidupku yang terjadi sehingga membuatku selalu merasa was-was. Hidup yang ku jalani sangat jauh dari kehidupan orang pada umumnya, walaupun secara kasat mata orang melihat hidupku yang “nyaman-nyaman” saja. Setiap orang yang kenal aku secara kasat mata selalu bilang, “apalagi yang mau dicari, semua sudah ada”, “apalagi yang kurang”, “kamu tuh udah enak kali hidupnya”, “udah jalani aja”, “semuanya itu ada dalam hati”, begitulah komentar-komentar orang yang ku temui bahkan orang-orang terdekat juga berkata yang sama.

Aku jadi merasa bersalah, apa aku kufur?

Pada akhirnya aku hidup karena pandangan mereka, tidak benar-benar karena keinginanku. Mungkin karena caraku menyelesaikan masalah selalu dianggap menyimpang, bahkan menurut orang terdekatku sendiri. hmmm…. ntahlah. Semuanya selalu senyap saja. Lagi-lagi aku tetap harus menyelesaikannya sendirian. Yah, anggap sajalah aku kuat atau memaksa diri untuk kuat.

Jika ditanya sekarang, apa keinginanmu saat ini?
Aku ingin pergi dari orang-orang yang mengenalku di sini.
Menjalani kehidupanku yang baru, dengan orang-orang baru.
Aku punya caranya, untuk itu aku harus berjuang agar keinginanku terkabul.
Aku hanya ingin meyakinkan diri bahwa caraku benar kali ini, dan Allah meridhoinya.
Hari ini, Aku berdo’a. Untuk kehidupanku di bulan-bulan berikutnya. Agar aku tetap “waras”, kuat, sehat, dan terbiasa sendiri, lagi. Kembali menjalani kehidupan dengan akal bukan dengan perasaan. 

Karena sendiri tak selamanya melambangkan kesedihan, sama seperti berdua tak selamanya melambangkan kebahagiaan. 

Aku Rindu Ayah


Hari di mana jatah kehidupanku berkurang di dunia
5 Januari 1986 M / 23 Rabiul Tsani 1406 H

5 Januari 2020

Share:

Search Here

Recent Posts

Categories

Most Popular

Total Pageviews

Yang di Unggulkan

Al-Baqarah Dan Kantong Ajaibku

Pada empat halaman awal, tak terlalu sulit untuk menghafal surat ini. Hal ini dikarenakan ayat-ayatnya masih familiar. Tantangan dimulai di...

Bee

Bee
Bee

Pages