Islamic Economic Activist . A Beginner Writer

Do do da idi

Allah hai dô dô da idi
Boh gadông bi boh kayèe uteun
Rayek sinyak hana peu ma bri
‘Ayéb ngön keuji ureueng dônya kheun
Allah hai dô dô da idi
Buah gadung dan buah-buahan pohon dari hutan 
Cepat besar anakku, tapi tak ada yang dapat ibu berikan 
Aib dan keji yang dikatakan orang-orang
Allah hai dô dô da idang
Seulayang blang ka putôh taloe
Beurijang rayek muda seudang
Tajak bantu prang tabila nanggroe
Allah hai dô dô da idang 
Layang-layang di sawah telah putus talinya 
Cepatlah besar anakku, oh, Banta Seudang! 
Ikut bantu berperang untuk membela bangsa
Wahé aneuek bek taduek lé
Beudöh saré tabila bansa
Bèk tatakot keu darah ilé
Adak pih maté poma ka rèla
Bangunlah anakku, janganlah duduk kembali 
Berdiri bersama pertahankan bangsa 
Jangan pernah takut walaupun darah harus mengalir 
Sekiranya engkau mati, ibu telah rela
Jak lôn tatèh, meujak lon tatèh
Beudoh hai aneuek tajak u Acèh
Meubèe bak ôn ka meubèe timphan
Meubèe badan bak sinyak Acèh
Mari ibu latih kamu berjalan 
Bangunlah anakku, mari pergi ke Aceh 
Sudah tercium wangi daun dari timphan
Seperti wangi tubuh anak Aceh
Allah hai Po Ilahon hak
Gampông jarak h’an trôh lôn woe
Adak na bulèe ulon teureubang
Mangat rijang trôk u nanggroe
Allah Sang Pencipta yang punya kehendak 
Jauhnya kampung(ku) tak sampai untuk ku kembali 
Seandainya (aku) punya bulu (sayap) untuk terbang 
Supaya lekas sampai ke nanggroe (= Aceh)
Allah hai jak lôn timang preuek
Sayang riyeuk jisipreuek panté
‘Oh rayek sinyak nyang puteh meupreuek
Töh sinaleuek gata boh haté
Kemarilah, nak, agar ibu dapat menimang engkau 
Sayangnya ombak memecah pantai 
Jika anak(ku) yang putih ini sudah besar 
Di manakah engkau akan berada nanti, anakku?
Lirik di kutip dari ceritabahasa.com
Salinan lirik lagu di atas adalah salah satu lagu yang saya favoritkan setelah bencana gempa dan tsunami yang melanda Aceh Lon Sayang kurang lebih 15 tahun lalu.
Lagu yang kala itu saya bertanya-tanya setelah tahu artinya, kenapa lagu ini menjadi backsound berita bencana saat itu.
Melihat artinya rasa-rasanya tidak terlalu sesuai dengan kondisi saat itu.
Tapi jika mendengar alunan nadanya, sangat menyayat hati.
Sangat pas menggambarkan kesedihan yang sangat mendalam saat ditinggal pergi orang-orang terkasih.
Sudah lama saya tidak mendengar lagu ini setahun belakangan.
Konon lagu ini sering dinyanyikan oleh para ibu yang tinggal di Nanggroe (baca: Aceh) ingin menidurkan anaknya.

Lagu ini berkisah tentang seorang ibu yang sedang mendendangkan lagu untuk membuat anaknya tertidur.
Isi lagu ini menggambarkan kondisi dan harapan-harapan sang ibu ketika anaknya besar nanti.
Seorang ibu yang sangat tegar dan ikhlas menurut saya untuk merelakan anaknya pergi.

Bait pertama lagu ini, sang ibu menceritakan kondisinya yang mungkin tidak dapat memberikan kebahagiaan bagi anaknya sebahagia keluarga lain. Mungkin Sang Pencipta lagu ingin menyampaikan bahwa hidup di dunia tidak selalu indah. Maka, mempersiapkan segala kemungkinan paling buruk lebih baik agar menjadi pribadi yang tangguh.
Bait kedua lagu dan ketiga, menggambarkan kondisi Indonesia saat itu khususnya aceh dalam masa peperangan. Sang ibu yang tegar merelakan anaknya pergi berjuang demi bangsa di mana ia berpijak dan tinggal. Bahkan, jika anaknya meninggal saat membela kehormatan bangsanya ibunya pun rela. Seorang ibu yang luar biasa. 
Bait keempat hingga keenam, gambaran sang ibu yang sedang mempersiapkan anaknya, agar dapat menjadi pahlawan bagi bangsanya. Walaupun begitu, ibu tetaplah ibu, setegar apapun dia, tetap ada kekhawatiran yang menyelimuti hatinya. Apakah anaknya menjadi orang yang berguna atau tidak.

Berulang-ulang saya baca artinya, barulah saya paham, mengapa lagu ini bergema setiap ada berita yang menayangkan kondisi pasca bencana saat itu. Lagu ini seperti memberikan kekuatan bagi warga yang tinggal di Aceh kala itu, melihat kondisi Aceh yang sangat porak-poranda seperti kota mati. Bahwa asal ada kegigihan dan tidak lupa tawakkal, dengan izin Allah, segala rintangan terasa ringan. Man Jadda Wa Jada.

Sekarang Aceh tersenyum, sangat senang pernah menjadi dan akan selalu menjadi bagian dari Aceh.

Bagi Sang Pengarang lagu, maaf jika saya menafsirkan lagu ini tidak sesuai dengan tafsiran yang sebenarnya. Ini hanya bentuk kecintaan terhadap kota yang sangat memberikan banyak kenangan, khususnya di masa kecil saya.

Aceh Lon Sayang
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Search Here

Recent Posts

Categories

Most Popular

Total Pageviews

Yang di Unggulkan

It's A Life : Perjalanan (2)

Hidup itu perjalanan. Perjalanan untuk mengenal banyak manusia, menghadapi banyak masalah, mencari solusi dari setiap masalah, menghadapi ke...

Bee

Bee
Bee

Pages